Friday, January 23, 2009

Magdalena 13

http://www.youtube.com/watch?v=nSz16ngdsG0

======================
“Bang, kirim salam sama mamatua dan bapatua serta adik-adik, sama Sinta juga” katanya sesaat bus akan meninggalkan terminal. Mendengar Magda menyebut nama Sinta aku terhenyak.
======================

Romantika cinta yang berlangsung beberapa jam lalu diruang"perpustakaan" Magda, menguatkan hatiku untuk melupakan masalah tabu sebagai penghalang hubunganku dengan Magda. Tekadku bulat harus mempersunting Magda apapun yang menjadi resiko. Aku berharap, ibuku dapat memahami keberadaanku dalam persoalan super ribet ini .

Setelah melewati perjalanan panjang dan sangat melelahkan, aku tiba dikampung disambut hujan lebat diiringi kilatan halilintar. Segera aku berlari dari perberhentian bus menuju rumah. Ayah menyambut kedatanganku dengan wajah heran.

"Bagaimana keadaan ibu," tanyaku tak sabar.
" Ibumu sehat!,' jawab ayah tak kalah heran.
"Kata Sinta ibu sakit,"
"Oh...ya... memang dua minggu lalu tetapi kena serangan flu ringan saja. Ibu dan ompung mu pergi dirumah tulang, sebentar lagi ada acara syukuran. Selain baru menamatkan sarjana mudanya Sinta telah diterima mengajar di SMA Labuhan Deli . " Istrahat dululah kau sejenak amang,( nak, pen) sebentar lagi kita kesana ," kata ayah.

Menjelang malam, aku dan ayah menyusul ibu kerumah tulang. Disana telah berkumpul sejumlah famili, penetua dan pendeta. Wajah Sinta sumringah melihat kedatanganku malam itu, tak sedikitpun menunjukkan merasa bersalah. Aku berusaha menutupi rasa kesal ulah paribanku yang memang cantik mirip ibuku itu. Sinta dan keluarga sedang dalam suasana sukacita, sungguh tak beradab bila aku menunjukkan sikap bermusuhan.

Aku beri ucapan selamat kepada Sinta yang duduk diapit nantulang dan tulang. Tampaknya ibu tak sabar dia menyongsongku dan memelukku erat, "ro do hohape amangdatang juga kau nak, pen), " ibu mendekap ku dengan sukacita.
" Kata ayah kau nggak bisa pulang liburan ini karena sedang persiapan skripsimu," tambahnya.
Aku diam saja tak menjawab, takut kecoplosan dan mengatakan kalau kedatangaku karena ulah Sinta.
***
Sinta mengajakku duduk persis disebelah tulang. Tulang mengangagguk tanda setuju. Dalam hatiku gemas, tunggu acara bubar, ku podal ( bekap mulut, pen)kau nanti Sinta. Perasaan bosan menghinggapiku, pikiran masih nyangkut di"perpustakaan" Magda. Ragaku bersama Sinta dan keluarga tulang, sementara hati dan jiwaku berkelana keharibaan Magda. Dalam angan melayang, ada juga hikmahnya ulah Sinta pikirku, a blessing in disguise. Tanpa ulah Sinta, peluang seperti yang baru saja terukir di kamar kost, belum tentu seromatis tadi pagi dengan Magda.

Ya..beberapa jam lalu aku dan Magda berlayar jauh menyelusuri lautan luas dengan sejuta harapan. Semangat dan kasih sayangku semakin berbunga-bunga kepada Magda. Hatikupun telah bertekad meskipun sedikit nekat karena nyerempet adat-istiadat.
***
Para undangan dan kerabat satu-satu meninggalkan acara syukuran. Aku tak sabaran lagi menunggu semua pulang, aku mau segera podal pariban nakal ini. Tapi segera aku urungkan niatku setelah sadar dia ini pemain silat handal. Lha manapun nanti yang ku podal pasti dia mengelak, pikirku. Kan nggak lucu dia tarik jurus didepan ibu, ompung dan tulang. Akhirnya aku batalkan niatku.

Kumainkan jurus baru, sandiwara. Kuajak dia antarkan ibu dan ompung pulang kerumahku." Iya bang, tunggu aku ganti sepatu," katanya sambil bergegas kedapur. Ibu sudah siap berangkat, ompung mandek.

"Tunggu dulu sebentar, pahundul jolo disi, (kamu duduk dulu disitu, pen)" perintah ompung. Ompung pasti heppot ( reseh, pen) lagi nih pikirku.
Sinta, ibu dan aku duduk berdekat sementara tulang dan nantulang ( ibu Sintauli) meninggalkan kami. Memang kelihatannya nantulang kurang sehat.

"Ai aha dope pinaimam hatahon ma tutulangmi(Apalagi yang kau tunggu bicaralah sama tulangmu, pen)
Sinta sudah kerja nanti dapat membantu menyelesaikan sekolahmu. Bulan depan dia sudah mengajar di Sungai Deli," katanya semangat. (Bersambung)

Los Angeles, January 2009

Tan Zung

http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Magdalena( 12)

http://www.youtube.com/watch?v=siBoLc9vxac


==================
“Naik bus, taksi luar kota mahal sekali,” jawabku
“ Aku ikut bang, naik taksi saja kita. Aku bilang nanti sama papi, kebetulan kita lagi libur dua minggu kan,”?
“Bah, kau mau ikut.?????”
=================
“ Magda..... kamu mau ikut ke kampung,?” tanyaku seakan tak percaya. Sungguh aku terperanjat bukan kepalang. Aku semakin mengagumi ketulusan hati ito sekaligus pacarku Magda .
Aku.... selama ini hanya hanyut dalam pertimbangan-pertimbangan konyol dan sering bodoh. Aku jadi muak terhadap diriku sendiri. Kadangkala aku berpurapura menutupi ketololanku.

“Boleh aku ikut bang,? agar aku permisi sebelum papi berangkat kekantor,” bujuknya. Ajakan dan perhatiannya begitu besar terhadapku membuat diriku semakin kecil dihadapannya.

Kali ini aku jatuh hingga ke titik nol dan cengeng. Kupeluk dia sambil aku berbisik ditelinganya, “Magda terimakasih, lain waktu saja kita pergi bersamaku." Ku kecup pipinya kemudian merangkul rapat sambil membenamkan wajahku dipundaknya. Aku malu dia melihat tetesan air mataku. Magda mengelus kepalaku. Ternyata diapun larut dalam kesedihan.

“Sakit apa mama? dirumah sakit mana di opname,” tanyanya .
Aku hanya menggelengkan kepala masih dalam rangkulannya.Magda membiarkan kepalaku bersandar dipundaknya, dia mengusap kepalaku . Magda mencium pipiku berulangkali, “Berdoa kita bang,”ajaknya. Usai berdoa, Magda meninggalkanku sejenak.

“ Magda ambil air panas dulu bang,’” katanya sambil membawa termos kerumah induk kostku.
“Minum dulu bang ,” katanya sambil menyeduh kopi hasil ”jarahan” dari rumahnya. Matanya masih merah, basah. “Kalau nggak boleh ikut, akulah yang mengantar abang keterminal besok pagi,” pintanya.
Terimakasih sayang --kali pertama kupanggil sayang-- aku sudah pesan teman satu kampung ku untuk mengantarkan keterminal.

Nggak bang, aku yang antar. Aku pulang dulu ganti pakaian,”katanya. Magda bergegas meninggalkanku. Aku diam, tak mau lagi berbuat bodoh. Tak lama kemudian dia datang dengan mobil Hardtop mobil dinas papinya.
Magda menanyakan tas pakaianku. Waduuhh...sampai aku terlupa karena terlena atas ketulusan hatinya, really pure.

Kuambilkan koper kecil dari kolong tempat tidurku. Magda membuka lemari mini tempat pakaianku.
“Berapa pasang mau dibawa bang,” tanyanya sambil memilih beberapa pasang pakaianku.
‘Cukup dua pasang . Kalau kebanyakan bisa-bisa aku tak ingat pulang , nanti kau kesepian,” ujarku tersenyum.
“Abang jugalah ...ahhh.” katanya sambil melemparkan t-shirt ke kepalaku.
***
“Pak, kita ke Jln. Bintang dekat pasar Sentral,” katanya kepada sopir dinas papinya.
Didalam mobil menuju terminal , “Ini titipan mami sama mama tua dan bapak tua dikampung,” ujarnya.
Aku yakin bukan maminya yang beli, pasti Magda. Tanganku terasa berat menerima.

“Masih ada uangmu bang,” tanyanya.
Soal uang memang dia tak mau lagi main sodor. Dia trauma, satu saat aku marah ketika dia membayar, diam-diam, minuman kami di kantin. Untuk urusan ”gengsi”ini aku paling rawat habis. Niru-niru anak Medan.

“Iya aku masih punya. Nantilah kalau aku pulang kau yang bayar minuman kita,” ujarku.
Magda tertawa. “Betul ya bang aku yang bayar,” ujarnya.
Aku tak mau lagi larut dalam sedih. Aku mau meninggalkan Magda dalam keadaan ceria.

“ Kalau Jumat nanti aku belum kembali, kau dan Mawarlah pergi kepesta Bistok.”
“ Kalau abang belum datang, aku nggak pergi,” ujarnya
“Ngga enaklah tadi malam kita sudah janji sama dia ,” ujar ku.
“Lihat nantilah bang, urus mamatua dululah,” katanya. Lagi-lagi kalimatnya menyentuh hatiku.

Aku serahkan kunci kamarku kepadanya. “Magda titip kunci ruang perpustakaan kita.” kataku.
Magda kembali ”pulih”, dia memelukku dan mendekatkan wajahnya kewajah ku.
“Ya sayang,” balasnya.
Sebelum bus berangkat, kami masih sempat bercengkrama di mobil dinas papinya. Orang-orang sekitar kami sesekali melirik kami di dalam mobil.

“Bang, kirim salam sama mamatua dan bapatua serta adik-adik, sama Sinta juga” katanya sesaat bus akan meninggalkan terminal. Mendengar Magda menyebut nama Sinta aku terhenyak. (Bersambung)

Los Angeles, January 2009

Tan Zung

http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Magdalena ( 11)

http://www.youtube.com/watch?v=BD3ovfZXO5Q

=================
....."dada..dag....ito Magda.!"
Mata Magda melotot, "nggak...,"ketusnya.
"Daag...Magda sayang..,"ujarku lagi untuk menyenangkan hatinya.
Tiba di kamar kost, aku merasa tersiksa.
=================

“Bang Tan Zung kita sudah sampai ,” ujar abang beca membangunkan dari lamunan ku.Bah, hebat kali aku ini rupanya, tukang becapun tahu rumah dan tahu pula namaku.
“Siapa namamu, darimana kau tahu namaku?“ tanyaku heran sambil merogoh kantongku mau bayar ongkos.
“Nggak usah bang,” tolaknya, seraya membuka topi khas tukang beca dayung Medan


“Bah, kamunya itu Ramos ,?
Nih, ambillah semuanya. “ Sejak kapan kau jadi tukang beca.”
“Sejak bapak meninggal enam bulan lalu,”jawabnya.

Ramos berat hati menerima uang pemberianku, jumlahnya setara tiga kali ongkos biasanya. Aku bersyukur ada orang yang mauku ajak bicara malam ini dikamarku sekaligus mengurangi rasa stress. Didepan Magda begitu sempurna keberpuraapuraanku, namun dalam kesendirian aku menderita siksa tiada tara.

Ramos menolak ketika kuajak mampir dikamar kost, ruang “perpustakaan “ Magdalena yang baru ditahbiskannya sendiri tigapuluh menit yang lalu.

"Lain waktu sajalah bang, aku baru dapat setoran nih,” ujarnya
“Gampanglah itu, kutambah lagilah nanti,” kataku . Dalam hati, daripada aku tergoda beli manson mending kuberikan sama Ramos.

Ketika aku membuka pintu kamarku, aku menemukan secarik kertas tertulis pesan," bang segera pulang namboru sakit!." Nama Sintauli tertulis diakhir tulisan.
“Aku yang menyelipkan surat itu tadi siang, kupikir abang sudah baca. Sintauli sudah pulang duluan, aku yang mengantarkannya keterminal,” kata Ramos.
Bah, pedulikalilah pariban Sinta sama ibuku, aku tak habis pikir. Benar ibuku namborunya kandung, tapi kok....?

Aku berprasangka, jangan-jangan ini skenario tulang, orang tua Sinta dan ompung boruku.Sebab, seperti apapun gentingnya berita dari kampung, tak pernah pakai pesan seperti ini. Ada orang suruhan tauke ayah “ Kian Hong” mendatangiku ke kampus bila ada berita penting. Lagipula dua hari lalu , aku ketemu bapak dipasar Central, ketika dia belanja. Bapak tak ada bicara soal kesehatan ibu.

“Kapan nyusun skripsi akhirnya bang,” tanya Ramos membuyarkan rasa pradugaku sama pariban. ”Cantik kali kakak itu. Hebat abang bah bisa dapatkan dia, boru ( maksudnya marga apa dia),” tanyanya nyerocos sambil terenyum.
Boru-borulah,” jawabku sekenanya sambil menuangkan kopi - hasil seduhan Magda--kegelas kami berdua dari isi termos yang tersisa.

Sebelum Ramos mencocor pertanyaan tentang Magda, ku cocor duluan dia dengan bermacam pertanyaan. Mulai dari kapan dia menyelesaikan sarjana mudanya dan apa rencananya setelah tamat.

“Harusnya sama dengan Sinta. Tapi karena bapak sakit-sakitan dan akhirnya meninggal, jadinya terlambat. Tak tahu kapan aku selesaikan skripsi kecilku.” ujarnya sendu.
“ Ramos, kebetulan aku libur dua minggu ini, mampirlah kesini kalau butuh batuan mengenai skripsi mu itu,” ajak ku menawarkan diri.

***
Aku minta tolong Ramos mengantarkan aku besok pagi keterminal bus di Jl. Bintang.Sepulangnya Ramos pikiranku kembali “rusuh” antara Magda, adat dan Sintauli. Ompung boruku ( nenek, pen) yang paling bernafsu agar aku menikahi paribanku Sintauli. Pagi sekitar pukul enam aku telephon Magda dari rumah kostku memberitahu kalau sebentar nanti pukul 10 pagi mau pulang kampung.

“Ibuku sakit, nggak tahu sakit apa,” kataku lirih. Tidak berapa lama dia datang menemuiku.
“Abang pulang naik apa,"tanyanya
“Naik bus, taksi luar kota mahal sekali,” jawabku
“ Aku ikut bang, naik taksi saja kita. Aku bilang nanti sama papi, kebetulan kita lagi libur dua minggu kan,”?
“Bah, kau mau ikut.?????” (Bersambung)

Los Angeles, January 2009

Tan Zung

http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Magdalena (2)

http://www.youtube.com/watch?v=xXTLF_ONL3U
=============
Disudut kamar, kami duduk berduaan, mesra iya...sangat mesra. Kubelai rambutnya yang terurai lepas. Kucium keningnya dan menelusuri hidung hingga bibirnya, berbalas. Meski itu hanya dalam mimpi tapi aku menikmatinya .
============

Malam minggu berikutnya diskusi kami tidak berlangsung seperti biasanya, Magda ogah-ogahan. Mungkin ada masalah dalam keluarga pikirku. Ketika hendak beranjak pulang, dia menahanku. Magda mengambil setengah paksa buku dari gemgaman tanganku.

"Tunggu dulu, kenapa kamu mau cepat-cepat pulang, mau pergi ke bar, mau mabuk lagi hah!? Zung, kasihanilah dirimu. Kamu telah membohongi dirimu sendiri. Kamu berjanji tidak akan mau mabuk-mabukan lagi, tapi ternyata makin liar dan gila. Apa kurang wanita didunia ini yang ingin kau temani, sampai kamu tidur dengan pria,"? tanyanya dengan suara tertahan marah.

Mataku nanar, kepala bagaikan kena pentung. Aku sesak, tak tahu berkata apa, gara-gara si "bodat" satu di Tampomas itu. Memang Magda benar, dulu aku telah berjanji tidak akan mau mabuk- mabukan lagi, bahkan centeng parkiranpun aku tinggalkan. Juga gemerlapan malam di salah satu hotel telah aku tinggal. Semuanya ini karena nasihatnya. Entah kenapa malam jahanam di Tampomas itu aku kecolongan, padahal baru satu kali malam minggu berpisah dengan Magdalena.

Ingin rasanya mencabik-cabik mulut Mawar yang selama ini kuanggap sahabat. Aku marah dan menyesalkan sikap Mawar. Menurutku seharusnya Mawar tak perlu membeberkan "tragedi" itu kepada Magdalena.

"Pasti Mawar menceritakan kejadian tak sengaja itu kepadamu. Seharusnya Mawar tdak perlu menceritakannya. Percayalah, kejadian itu hanya kebetulan dan diluar keinginanku," jelasku
"Kamu salah, kamu yang egois. Justru karena sahabat itulah Mawar tidak mau bila kamu terperangkap oleh makhluk buas pemangsa sesama," katanya setengah teriak menahan marah.

"Magda cukup, tutup mulutmu!" balasku berteriak. Dia terperangah, kaget mendengar teriakanku. Uhh...kali ini aku runtuh lagi, bengis. Aku sendiripun kaget, kenapa aku begitu reaktif, padahal selama aku berteman dengannya, tak sekalipun aku bersikap kasar.

Dia meninggalkanku sendirian diteras rumahnya. Aku sangat menyesal dengan kata-kata kasar yang baru saja kucapkan. Aku tertunduk lesu, dada terasa sesak. Aku menyusul kerumah tetapi tak menemukannya. Aku kembali keteras. Rupanya mami Magda terjaga mendengar hentakan suaraku. Dia menyalakan lampu ruang tamu dan menoleh keteras lewat jendela, bertanya, " Magdalena kemana.?"

"Dia ke kamar tante,"jawabku kelagapan. Tak berapa lama Magda dan ibunya keluar dari kamar, kedua mata Magdalena tampak memerah.

"Kenapa? Apa yang kalian ributkan?" tanya maminya. Mulutku tertutup rapat tak tahu apa yang harus kukatakan. Magda menarik tangan maminya menuju ruangan dapur; Magda membisikkan sesuatu. Maminya mendengar serius dan menatap Magda seraya mengangguk-angguk kepala kemudian kembali menuju kamarnya.

Magda meletakkan diatas meja buku-buku yang diambil olehnya dari tanganku. Magda duduk berhadapan denganku. Dia menatapku dalam-dalam dan terasa menusuk jauh hinga kerelung-relung paling sudut. Aku tak tahan lama melihat sorot matanya. Tak sepatah kata pun terucap dari kami berdua kecuali duduk, diam seribu bahasa. Magda akhirnya meninggalkanku setelah dia puas menatapku seakan menelanjangi kepongahanku.

Kembali aku tertunduk lesu sedih menyesali sikapku yang baru saja terjadi. Dada terasa sesak tak tertahankan. Aku meninggalkan teras tempat kami belajar selama dua tahun itu. Kulihat sekeliling, dalam hati berucap selamat tinggal kenangan. Aku merasa itulah malam terakhir kebersamaanku dengan Magda.

Seperti dalam bagian kenangan yang kutorehkan ini, selama persahabatan yang berlangsung hampir dua tahun, tak pernah kata cinta terucap dari kedua bibir kami. Sepertinya kami hanya hanyut perasaan bergayut cinta. Terbukti dari sikap kami malam itu, ada rasa marah dan cemburu.

***
Dengan rasa bersalah, aku meninggalkan teras rumahnya dengan hati yang hancur lebur. Aku terus menyusuri halaman rumahnya yang luas menuju kesisi jalan sambil menunggu becak.

Aku tersentak mendengar suaranya, ketika menunggu becak yang akan membawaku pulang. Magdalena tak tega. Dia menyusulku keujung halaman rumahnya. Dia menghampiri seraya menyerahkan kunci kereta ( motor, pen), " Zung kau bawa kereta ini, tapi besok jemput aku ke gereja, jangan terlambat kau," suaranya pelan. Ditengah cahaya temaram, mataku menembus kebeningan jiwanya yang tulus dan bersahaja. Tanganku terasa berat menerima kunci motor itu dari tangannya sebab dosaku teramat besar padanya.

"Hati-hati dijalan, jangan lupa besok jemput aku," ulangnya lagi. Kuraih kedua tangannya, " maafkan aku Magda, aku sangat menyesal atas kata-kataku tadi. Maukah Magda memaafkan ku,?" mohonku serius.
"Iya...iya ..pulanglah nanti mami bangun lagi,"balasnya. Mata kami saling menatap

"Hushhh.... jangan nakal," katanya seraya menempelkan ujung jarinya lembut kebibirku ketika ingin memberi ciuman sebagai tanda terimakasih balas kebaikan hati serta kelembutannya. Malam itu sepertinya tertoreh jalinan kasih, inikah yang disebut cinta? entahlah. Yang pasti malam itu ada getaran-jiwa yang tercuat dalam persahabatan yang terjalin selama hampir tiga tahun membara membakar kalbu.

Esok harinya, dengan hati berbunga-bunga kupacu motor menuju rumah Magda. Aku tak mau terlambat. Akan kubuktikan lagi bahwa aku adalah sahabatnya yang patuh dan setia dengan janji. Pagi itu wajahnya begitu cerah, tubuhnya dibalut gaun berwarna biru muda warna kesukaanku. Rambutnya terurai lepas hingga kepinggang. Memang ini semacam perjanjian tak tertulis antara aku dan dia. Beda kalau kami kepesta pernikahan, sesuai dengan permintaanku rambutmya selalu digulung menyentuh pundak.

http://www.youtube.com/watch?v=t7wA_OI2y9U
(Bersambung)

Los Angeles, January , 2009

Tan Zung
http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Magdalena ( 10)

http://www.youtube.com/watch?v=OY48vyzgcZY

=============
" Si Bistok sijerawat batu teman kita di es-em-a itu mau nikah?. Adanya rupanya cewek mau sama dia.? Jadi ditinggalkannya kau,” kataku usil. “Bangngng.....aaahhh “ katanya manja sambil memukul-mukul dada ku.
=============

Magda gemas, dia mencubit pahaku kuat sekali. Aku menjerit kesakitan. "Biarin biar berbekas. Ayolah bang sudah malam,"ajaknya. Dia bangkit tangannya bertumpu kepahaku yang baru saja dicubitnya. Sebelum kuantar pulang kerumahnya, kami makan pangsit dulu ke Selat Panjang.

Disana kami kebetulan ketemu dengan Bistok dan calon isterinya. Bistok berteriak memanggilku dan Magda. Dia memelukku hangat. Wajahnya memang tampak berubah, tak berjerawat lagi, hanya aku tak suka perutnya buncit. Belum nikah kok perutnya sudah buncit begini," ujarku sambil menepuk perutnya.

Magda segera mencubit ujung jariku takut berkepanjangan. Bistok memperkenalkan calon isterinya dan bercerita sekilas masa lalu. Untung tak diungkitnya ketika aku timpuk perutnya pulang sekolah dulu.

"Pantaslah buncit perut kamu, rupanya lae bekerja dikantor beacukai Tanjung Priok," kataku.

"Jadi masih berlanjut nih. Kapan pestanya,?" tanya Bistok, wajahnya mengarah ke Magda. Sebelum Magda menjawab aku mendahuluinya, "Tahun depan lae," jawabku sok serius.

Bistok menyodorkan tangannya memberi selamat kepada kami berdua. Magda terkesima, meski merasa berat dia menerima ucapan selamat Bistok dan calon isterinya. Aku skak kau Magda pikirku. Sebelum berpisah Bistok mengingatkan kami untuk menghadiri pesta pernikahannya di Sopo Godang HKBP Sudirman.

Menunggu pesanan pangsit datang, Magda berbisik, "kau gila bang, pesta apa tahun depan," ujarnya dengan rasa geli.
"Ya pesta kitalah, memang pesta siapa lagi," jawab ku pura-pura serius.

"Banggggg ...selesai dululah sekolah kita,"ujarnya gemas.
"Ssst...banyak orang ini ngomongnya pelan-pelan,"kata ku setengah berbisik.
Dia tertunduk cekikian ingat peristiwa di restaurant Kp. Keling ketika dia skak aku.
"Iya... iyalah selesai dulu baru kita pesta, masa belum selesai sudah pesta," balas ku. Magda semakin bingung, tak sadar dia aku sedang menggoceknya.

"Maksud abang pesta apanya,?"tanya dia ulang.
"Jadi menurut mu pesta apa rupanya yang aku maksud,?" tanyaku balik.
"Aku kira... ,"
" Pesta pernikahan ," sergahku memotong pembicaraannya.
Magda tertunduk malu dan cekikian. Akupun mengikuti irama ketawanya sekedar mengimbangi rasa malunya. Aku tak mau dia hanyut dengan rasa malu. Aku alihkan pembicaraan rencana menghadiri pesta si Bistok orang Lubuk Pakam itu.
***
"Salomo tidak bisa ikut, dia pulang ke Porsea kita bertiga saja sama Mawar, " katanya.
"Aku pakai baju yang mana bang nanti,"tanyanya.
"Yang biru itulah ." jawabku singkat.
"Bosanlah bang itu melulu. Pesta si Ramian pun itunya kupakai," katanya memelas.

"Ya sudahlah, akupun tahu kalau kau sudah mulai bosan melihatku," kataku berlagak serius.
"Ya...iyaa itupun aku pakai," jawabnya dengan nada terpaksa.
"Nanti kita naik beca mesin kepestanya,"ujarku bercanda.
"Aku sudah bilang papi, kita naik mobil Hardtop."
"Aku nggak mau naik mobil plat merah, orangtuaku pedagang bukan pegawai negeri ,"kataku. Malam itu ku kerjain habis dia .
"Apa hubungannya bang,"tanyanya polos.
"Kita naik mobil yang satu lagilah, Fiat biru, "usulku.
"Ya nanti aku minta kepada papi," jawabnya polos.

Usai makan pangsit kami segera pulang. Magda super yakin kalau aku sudah menjadi miliknya. Tangannya tak merasa canggung lagi melingkar dipinggaku dari belakang boncengan.

Inanguda dan amanguda sedang duduk diteras ketika kami tiba dirumah. Sebelum ditanya, Magda jelaskan kalau kami dari perpustakaan dan makan di Selat Panjang.

"Boong kau Magda," kataku ketika dia mengantarkan aku kehalaman rumahnya.
"Iya..iyalah, kan kita tadi dikamar abang, perpustakaan cinta," katanya diiringi tawa .
" Magda, kamu sudah mulai garang memakai kata-kata cinta," ujarku.
"Satu-satu bang," ujarnya ketawa. Akupun ketawa lepas, ingat kejadian tadi dengan Bistok, Magda ku skak.

Ketika mau pulang dari rumah Magda, suara agak aku keraskan agar di dengar inanguda dan amanguda papinya Magda itu, "dada..dag....ito Magda.!"
Mata Magda melotot, "nggak...,"ketusnya.
"Daag...Magda sayang..,"ujarku lagi untuk menyenangkan hatinya.
Tiba di kamar kost, aku merasa tersiksa. (Bersambung)

Los Angeles, January 2009

Tan Zung
http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/