Tuesday, January 27, 2009

Magdalena ( 17)

http://www.youtube.com/watch?v=KLwyEp4knjc

=====================
Aku tarik tanganku dengan manja pula, aku punggungi dia dan nenek.“ "Ehhhhh angka naposoon( anak muda ini, pen).......” kata nenek cengengesan sambil meninggalkan aku dan Sinta dikamar.
=====================

Segera aku bangkit dari tempat tidurku. " Kita berhasil Sinta," teriakku sambil melemparkan selimut ketubuh Sinta. Aku memeluknya erat-erat.
" Dia meronta, sedikit gemetar, jangan bang," katanya berusaha melepaskan pelukan ku.
"Ini juga bagian dari skenario itu," kataku melepaskan tubuhnya sambil tertawa. Hahahaha.... ternyata kau juga pemain berbakat," kataku sambil menggandengnya mesra keluar dari kamar.
" Tenang kau Sinta tak usah malu, ini masih bagian alur scenario."

"Apa yang kalian bicarakan dikamar," tanya ibuku tersenyum.
"Kami hanya bicara tentang buku cerita."
" Cerita tentang apa," tanya ibuku.
" Cerita tentang dua sejoli sedang jatuh cinta. Ceritanya menarik dan bagus, sebentar lagi filmnya diputar dibioskop. Apa nama bukunya aku lupa," tanyaku berpura-pura pada Sinta.
Judulnya, "Paribanku Genit" Isi ceritanya bagus namboru," kata Sinta ketawa, ibu ikut tertawa.

" Sinta ! aku hampir kelupaan oleh-oleh untuk ibu." ingat ku sambil kembali kekamar.
"Bu, ini oleh-oleh dari Magda. Tidak tahu apa isinya," ujarku.
"Siapa itu Maria Magdalena..," tanya ompung hempot.
" Magdalena pung, tidak pake Maria," potong Sinta.
"Samalah itu, " oceh ompung
" Oh...iya.... tulang mu sudah cerita tentang kekerabatan kita. Benar, Magda ito mu, jangan main-main kau ," ucap ompung.
"Aku tidak main-main pung, aku serius kok."
"Bukan itu maksud ku. Magda itu saudara dekat, kau tidak boleh meneruskan hubungan mu," katanya lagi menasehatiku.

Sinta memberi isyarat agar aku tidak melayani ocehan ompung. Ibuku masih enggan membuka titipan Magda.
"Bukalah namboru," ujar Sinta.
"Kamulah yang buka, " ujar ibuku sambil menyerahkan bungkusan itu.
Aku sedikit gelisah. Mestinya aku tak memberitahu lebih dahulu bahwa itu oleh-oleh dari Magda.

"Kain sarung..! cantik sekali namboru. Sama akulah ini iya namboru," kata Sinta sambil melirik kearahku. Ibu diam dan menatapku. Sejenak aku dan Sinta saling adu pandang.
Ompung ngerocos, " Ambilah itu sama kau banyaknya kain sarung namboru mu’"
Segera ibu meraih kain sarung dari pegangan Sinta. " Sampaikan terimakasih ku sama Magda,"ujar ibu tersenyum seraya melirikku.
Aku dan Sinta tersenyum lega melihat "adegan" yang mendebarkan itu, cair sudah. Kecuali ompung wajahnya semakin keriput karena merengut.

" Besok aku pulang," jawabku, ketika ibu menanyakan kapan aku kembali ke Medan.
"Kenapa buru-buru amang, disinilah kita bergereja, kau masih libur bukan ,?" bujuk ibuku.
Aku diam, sukar sekali menolak ajakan ibuku. Tapi bagaimana dengan Magda?. Padahal aku sudah janjian menghadiri pesta pernikahan Bistok, Sabtu lusa.(Bersambung)

Los Angeles, January 2009

Tan Zung

http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Monday, January 26, 2009

Magdalena (16)

==================
“ Ayo Sinta kita melanjutkan babak sandiwara kita seperti tadi malam, “ ujarku pelan takut kedengaran kedua orang tua dan nenek reseh itu. Kusuruh dia duduk diujung tempat tidurku.
" Sinta, tutupkan dulu pintu itu. Kau sudah nonton film “bernafas dalam lumpur ....?”
=================
Jadi kamu sudah menunggu film "bernafas dalam lumpur iya,"
“ Sudah, Minggu lalu, kenapa,?”
"Kita melakoni seperti dalam film itu," ujar ku.
“ Lakon yang mana,” tanyanya.
" Lakon ketika mereka cekikian dibawah kelambu."

“Nggak.....abang genit,” ujarnya sambil berbalik meninggalkanku.
“ Ya.....sudah kalau nggak mau,” kataku sambil menarik selimut menutup wajahku. Dia berbalik lagi dan menyingkap selimutku.
“ Bagaimana kalau seperti dalam adegan film " cowboy cengeng” kata Sinta tertawa.
"Kita nggak punya pistol-pistolan. Ya...sudah entah film apalah itu yang penting kita sedikit lebih lama dikamar,"ujarku. Adegan belum dimulai, terdengar suara nenek memanggil...
"Tan Zung....Sinta.. kesinilah, serapan sudah tersedia.”

“ Sinta jangan jawab, biarin. Kalau nanti nenek buka pintunya, kau pura-pura tarik tanganku dan aku akan meronta. Kemudian tinggalkan aku sambil melemparkan batal itu kemuka ku seperti orang merajuk. Bayangkan aku seperti Sihol pacarmu itu.” ujar ku.
“Dan aku seperti kak Magda,?” balasnya geli.

Kita bicara pelan, sesekali berteriak dan kau cekikan. Take perintah ku kayak shooting film benaran.
“ Tunggu sebentar, aku buka sedikit pintunya bang,” pintanya.
"Jangan, skenarionya harus begitu, ayo ketawa cekikan...ayoooo.” perintah ku

Sinta masih bengong, tak tahu apa yang mau dilakukan. Segeraku tarik tangannya kuat kesisiku. Sinta kaget, berteriak, dia berusaha melepaskan tangannya, merampas bantal guling dan membanting keras kewajahku.

“ Abang ...nakal ....,” ucapnya geram, wajahnya menunjukkan rasa kesal.
"Kau berhasil Sinta, itu bagian dari skenario ku.”
"Tapi abang kasar kayak yang di film “Ayah Tiri,” ujarnya dengan wajah sedikit pucat.
“ Harus begitu supaya kamu kaget.”
“Abang kesakitan ....,?”tanyanya dengan perasaan menyesal.
“Sudahan ah....masak pakai marah benaran.” kataku

“Yeee...abang merajuk ...ayo terus bagaimana lagi bang,” tanyanya.
“Sesekali kau ketawa genit dan seperti orang meronta-ronta kayak di film “ bernafas dalam lumpur “itu lagi.
“ Haaaaah...., nggak ah....!”

“Ya...sudah, kalau nggak mau. Terserah adegan film apalah, yang penting kita sedikit lama dikamar ini." ucap ku.
“Bagaimana kalau seperti adegan dalam film, lelakinya melompat dari jendela karena kepergok sama suami selingkuhannya’”usulnya.

Aku belum pernah nonton, apa judul filmnya?.
“Tertangkap basah" ujarnya ketawa lepas.
Jadi maksudmu aku melompat dari jendela?. Nggaklah, nanti benar-benar aku dikerubutin orang sekampung.
***
Nenek mengetuk pintu kamar...... “ Sinta...Tan Zung....keluarlah kalian, kita serapan namboru dan amangboru sudah menunggu."
Perlahan pintu kamar dibuka. “ Ai marhuai do hamu disi( Ngapain kalian disini, pen)" tanya nenek.

“ Take two”.....ayo Sinta mainkan.......kataku pelan.
“Aaahh....ayo bang....ayo...serapan aku sudah lapar nih ,” suaranya manja.
Aku tarik tanganku dengan manja pula, aku punggungi dia dan nenek.“ "Ehhhhh angka naposoon( anak muda ini, pen).......” kata nenek cengengesan sambil meninggalkan aku dan Sinta dikamar. (Bersambung)

Los Angeles, January , 2009

Tan Zung

http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/