Tuesday, January 27, 2009

Magdalena ( 18)

http://www.youtube.com/watch?v=BeBytCNUSIY

===============
Aku diam, sukar sekali menolak ajakan ibuku. Tapi bagaimana dengan Magda?. Padahal aku sudah janjian menghadiri pesta pernikahan Bistok, Sabtu lusa
===============

" Ya... bang, aku juga kembali setelah pulang gereja. Kita pulang sama bang," ujar Sinta. Ompung langsung nyambar, bilang sama bapakmu supaya beli tiket untuk pariban mu. Kalau tak dpat lagi kursi CC dikelas satu saja.

Oalah...ompung ini ngurus bangat. Hatinya memang baik cuma hempot. Pantasan semua cucunya memberi gelar ompung reseh.
" Sinta sandiwara kita masih berlanjut nih. Hari Minggu nanti aku jemput kau dari rumahmu. Kau pura-pura gelisah menungguku. Aku sengaja datang terlambat, kalau tulang mengajak jangan mau. Bilang kamu pergi kegerja dengan aku, ok?" ujar ku.
"Terus......bagaimana lagi," tanyanya
Siapkan uang persembahan untukku, jangan lupa hari ini 4 kali perembahan.
"Enak aja kau bang...."
" Heh... pulang gereja ku kembalikan lagi. Nanti kamu berikan didepan tulang dan nantulang. Lagi, kau kan masih punya utang, ongkosku pulang pergi belujm kamu ganti."

" Tapi kok kegereja kita harus bersandiwara bang...?" tanyanya.
Gereja juga tempat bersandiwaranya itu. Ingat kau waktu vorganger ( ketua majelis, pen) berantam dengan penetu, padahal baru saja keluar dari gereja.? Isteri pendeta cekcok melulu dengan biblevrow ( diakon wanita,pen).
Ketua pemuda kabur setelah menghamili anak orang, tak bertanggung jawab. Bendahara bungakan uang gereja. Masih ingat pak Julius Kepala SMP kita dulu paling rajin beribadah , sekarang dipenjara gara-gara menghamili encik, guru ilmu hayat itu. "

" Kok abang jadi ngelantur... kayak tukang koyok ( pejual obat illegal di kaki lima, pen) lagi..." ucapnya.
"Jadi sudah sampai dimana tadi alur scenario kita..?
"Uang persembahan empat kali," jawab Sinta tertawa.

" Ohhh...iya kata ibu, hari minggu ini ada pesta gereja, ibadahnya pasti berteletele.. Aku paling bosan bila ada pesta gereja, apalagi kata ibu, nanti ada acara lelang. Tengok nanti pada acara lelang, yang muncul juragan jengkol, kemiri, beras dan amanguda juragan cabe. Keempat juragan ini nanti bersaing memenangkan barang lelang yang disiapkan panitia, sipanggaron ( geer)Mending yang dilelang barang bermutu. Barang lelang hanya jenis makanan lampet ( kue khas batak,pen), pisang, bir. Ihur ( ekor, pen) pun dilelang.

" Ekor siapa bang yang dilelang," tanya Sinta terkekeh.
"Maksudku ekor kerbau pendek."
" Ya sudah, abang tidak usah kegereja."kata Sinta
" Nanti Magda marah,"balasku
"Lho....abang takut pada Magda apa ke Tuhan.?"

" Eeee....pariban, aku sudah tak jelas, antara Tuhan dan Magda. Apalagi kalau berjauhan seperti ini."
" Dalam bus; dipestamu kemarin; tadi malam dalam tidurku yang muncul hanya Magda.
"Abang ini kayak anak cencen ( remaja, pen) jatuh cinta."(Bersambung)

Los Angeles, January 2009

Tan Zung
http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Magdalena ( 17)

http://www.youtube.com/watch?v=KLwyEp4knjc

=====================
Aku tarik tanganku dengan manja pula, aku punggungi dia dan nenek.“ "Ehhhhh angka naposoon( anak muda ini, pen).......” kata nenek cengengesan sambil meninggalkan aku dan Sinta dikamar.
=====================

Segera aku bangkit dari tempat tidurku. " Kita berhasil Sinta," teriakku sambil melemparkan selimut ketubuh Sinta. Aku memeluknya erat-erat.
" Dia meronta, sedikit gemetar, jangan bang," katanya berusaha melepaskan pelukan ku.
"Ini juga bagian dari skenario itu," kataku melepaskan tubuhnya sambil tertawa. Hahahaha.... ternyata kau juga pemain berbakat," kataku sambil menggandengnya mesra keluar dari kamar.
" Tenang kau Sinta tak usah malu, ini masih bagian alur scenario."

"Apa yang kalian bicarakan dikamar," tanya ibuku tersenyum.
"Kami hanya bicara tentang buku cerita."
" Cerita tentang apa," tanya ibuku.
" Cerita tentang dua sejoli sedang jatuh cinta. Ceritanya menarik dan bagus, sebentar lagi filmnya diputar dibioskop. Apa nama bukunya aku lupa," tanyaku berpura-pura pada Sinta.
Judulnya, "Paribanku Genit" Isi ceritanya bagus namboru," kata Sinta ketawa, ibu ikut tertawa.

" Sinta ! aku hampir kelupaan oleh-oleh untuk ibu." ingat ku sambil kembali kekamar.
"Bu, ini oleh-oleh dari Magda. Tidak tahu apa isinya," ujarku.
"Siapa itu Maria Magdalena..," tanya ompung hempot.
" Magdalena pung, tidak pake Maria," potong Sinta.
"Samalah itu, " oceh ompung
" Oh...iya.... tulang mu sudah cerita tentang kekerabatan kita. Benar, Magda ito mu, jangan main-main kau ," ucap ompung.
"Aku tidak main-main pung, aku serius kok."
"Bukan itu maksud ku. Magda itu saudara dekat, kau tidak boleh meneruskan hubungan mu," katanya lagi menasehatiku.

Sinta memberi isyarat agar aku tidak melayani ocehan ompung. Ibuku masih enggan membuka titipan Magda.
"Bukalah namboru," ujar Sinta.
"Kamulah yang buka, " ujar ibuku sambil menyerahkan bungkusan itu.
Aku sedikit gelisah. Mestinya aku tak memberitahu lebih dahulu bahwa itu oleh-oleh dari Magda.

"Kain sarung..! cantik sekali namboru. Sama akulah ini iya namboru," kata Sinta sambil melirik kearahku. Ibu diam dan menatapku. Sejenak aku dan Sinta saling adu pandang.
Ompung ngerocos, " Ambilah itu sama kau banyaknya kain sarung namboru mu’"
Segera ibu meraih kain sarung dari pegangan Sinta. " Sampaikan terimakasih ku sama Magda,"ujar ibu tersenyum seraya melirikku.
Aku dan Sinta tersenyum lega melihat "adegan" yang mendebarkan itu, cair sudah. Kecuali ompung wajahnya semakin keriput karena merengut.

" Besok aku pulang," jawabku, ketika ibu menanyakan kapan aku kembali ke Medan.
"Kenapa buru-buru amang, disinilah kita bergereja, kau masih libur bukan ,?" bujuk ibuku.
Aku diam, sukar sekali menolak ajakan ibuku. Tapi bagaimana dengan Magda?. Padahal aku sudah janjian menghadiri pesta pernikahan Bistok, Sabtu lusa.(Bersambung)

Los Angeles, January 2009

Tan Zung

http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/