"Kisah Tanzung" merupakan cerita kehidupan masa-masa muda, ketika dua anak manusia jatuh dalam kehidupan cinta kasih sebagaimana layaknya orang kebanyakan.
Aneka warna kisah kasih dalam perjalanan cinta kasih adalah satu kewajaran; berakhir dengan sukacita atau dengan kepedihan, satu diantaranya menjadi akhir bagi pemeran itu sendiri.
================== Empat tahun bersamanya kini terhempas kelembah terjal nan cadas hanya karena pariban yang tertidur letih di dadaku, atau karena sebotol manson....? ==================
Sepeninggal Magda aku bagai orang pesong, otakku error tak tahu berbuat apalagi, benar-benar tulalit. Aku buang botol minuman manson sekaligus dengan gelas pembawa sial itu. Sesungguhnya aku sudah tak minum lagi sejak aku kembali aktif sebagai asisten pelatih. Seniorku memberi peringatan keras, "teruskan kebiasaanmu atau kau keluar dari perguruan ini ," ancam suhu seniorku suatu ketika.
"Tragedi" minuman manson ini terinspirasi dari suatu peristiwa temanku satu kampung, Saut. Bapaknya, digelari "sipastap langit" pernah berjanji akan membeli motor bila dia menyelesaikan sekolahnya. Aku satu angkatan dengan Saut. Mesti sudah tammat sarjana muda, orang tuanya tak kunjung memenuhi janjinya.
Suatu waktu dia datang kekamarku, dia mengeluh dan kesal karena orangtuanya belum memenuhi janji. " Kayaknya aku mau pergi merantau ke Pulau Jawa." katanya. "Tak lakunya "BA" mu itu di Jakarta. Kenapa kau mau merantau jauh, di Medan sajalah kau cari kerja.nSaut mau kerja di kantor gubernur ? Mereka sedang membuka lowongan untuk tingkat sarjana muda. Tapi, kau fakultas Antrophologi jurusan tulang belulang pula, mereka butuh fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi. Teruskan keluhanmu lae."
Bapakku janji terus, sebelum aku meja hijau berjanji membeli motor kalau lulus sarjana muda. Sesudah tammat sampai sekarang belum juga dibeli juga." keluh Saut. "Jadi hanya itu alasan kau? Beres, nanti kalau pulang kampung bisa kita atur.Tapi janji, kalau motor sudah dibeli, kau yang antar aku kekampus. Pulangnya sama pacarku, janji.?" "Boleh lae, gampanglah itu. Kau mau bicara sama bapakku.? tanyanya. "Ah kaupun, manalah aku berani sama bapamu "sipastap langit"itu. Nanti, ketika liburan semester, kita ke kedai tuak dekat rumahmu. Sembari dengar lagu.
"Aku tak biasa minum lae." katanya. "Kita tidak perlu minum tuak atau minuman keras, minum fanta saja, nanti kita beli dari warung sebelahnya." "Diketawaiin oranglah kita, kok dikedai tuak minum fanta,?" " Eeh...kau mau dibantu nggak? dengar dulu. Nati kita agak lama disana seakan-akan kita telah minum banyak. Ketika mau pulang kita minta minuman tekawe atau kamput dua sloki...."
"Aku tak bisa minum lae......" ujarnya memotong pembicaraanku.
" Diam dulu kau......ku piltik (sentil-pen ) pula kau nanti. Saat kita mau pulang itulah , kumur-kumur itu te-ka-we kemudian buang, jangan diminum." Saut ketawa geli. Malam pertama tak berhasil, kedua orangtuanya sudah tidur.
" Kita ulang lagi besok, jangan sampai kemalaman. Beli tiga seloki, tumpahkan sedikit kebaju dan celanamu, agar baunya menyengat. Nanti kau kuantar kerumahmu dan kau ngoceh sambil panggil nama pacarmu dan omak kau"
=============== Ternyata Magda lebih hebat dariku soal menyimpan perasaan. Magda masih mampu berlakon mesra “suap menyuap” namun dalam hatinya tersimpan bara yang siap menghanguskan...oooalah...cinta. ===============
" Magda, aku harus bagaimana lagi. Mestinya lewat mataku engkau dapat melihat, menembus kejujuran sukma,” ibaku lirih. Magda tetap menangis, hatiku menjadi kusut. Kejujuran menjadi “barang” langka dan mahal , ah kepalaku pening.
Kubujuk dia dengan membelai rambutnya seperti minggu lalu. Aku gerai dan menggulungnya namun tak mempan. Magda tetap menangis sambil memeluk bantal guling. Aku kehabisan akal. Aku ambil kunci motornya, “ Magda aku mau pergi sebentar,” ujarku minta ijin tanpa memberi tahu tujuanku. Mega tak menjawab menoleh pun tidak. Kutinggalkan dia sendirian dengan isak tangisnya. Segera aku menuju toko penjual minuman keras langgananku sejak dulu.
Pemilik toko merasa heran, soalnya aku pernah bersumpah, tidak akan minum lagi. “Minum lagi bang,” tanya pemilik toko. “Tidak, aku beli untuk teman,” sahutku singkat.
Sekembali dari toko, dihalaman rumah kosku, aku bertemu dengan Mawar, dia baru saja mencagakkan motor Vesvanya. “ Magda dimana bang. Tante nyariin,” tanyanya“ "Ada didalam ,” jawabku. “ Ribut lagi iya. Ada apalagi kalian.?” “ Kejadian tadi malam. Aku sudah jelaskan, tapi dia nggak mau percaya."
“ Aku juga sudah jelaskan sama dia. Dia sangat terpukul karena dia lihat sendiri bang. Bujuk dia bang, nanti juga mengerti. Aku cabut dulu bang,” mohon Mawar.
Sebelum berangkat, Mawar menatap tajam kearah ku. Tak kusadari ujung botol menson muncuat keluar dari kantong celana. Mawar turun lagi dari motornya menemui ku. Apalagi itu bang. Abang gila. Abang pesong, buang itu bang. Abang..! buang...itu.!" suara Mawar histeris.
“ Ya aku buang nanti.” "Nggak...sini bang, Mawar yang buang. Kalau nggak, aku tidak mau lagi berteman dengan abang seumur hidup, sungguh," ancamnya. Aku serahkan botol manson itu ketangannya dibawah ancaman. Mawar memasukkan dalam bagasi vesvanya, lantas dia pun pergi.
Sebelum Magda ”siuman” aku pergi ketoko beli satu botol lagi. Pemilik toko keheranan, dikiranya minuman yang baru saja aku beli sudah habis kutenggak. “Cepat kali habisnya bang,” tanyanya keheranan.
“ Oh ya. Tadi terjatuh, pecah,” kataku berbohong. Aku segera kembali, kubukakan botolnya, kuminum sedikit tapi mulutku sukar menerima. Yang dulu baunya merangsang, kini sangat menyengat.
Aku masuk, Magda masih berbaring ditempat tidurku, masih memeluk bantal guling. Aku panggil dia, tak menjawab. Kutuangkan manson yang tersisa kedalam cangkir. Mega mencium bau manson yang baru saja aku tuangkan. Dia bangun dan menoleh tajam kearahku. Magda menjerit histeris, dia melemparkan bantal dan selimut kearahku secara beruntun. Dia menangis sejadi-jadinya sambil menelungkup di tempat tidurku.
Ku tutupkan pintu kamar rapat-rapat takut kedengaran ibu kos. Aku merasa kasihan, tetapi aku juga tak berdaya kubiarkan dia menjerit sepuasnya. Dia bangun dari tempat tidur setelah keletihan menangis. Magda menghapus airmatanya dan memperbaiki baju serta merapikan rambutnya. Tanpa menoleh dia mengambil kunci motornya kemudian pergi.Aku terkesima melihat gerakannya begitu cepat.
" Magda, tunggu dulu, boleh kau pergi tapi sekali lagi dan untuk yang terakhir beri aku kesempatan berbicara," pintaku. Kupegang tangannya, dia meronta. Segera aku melompat kedepan pintu menahan kepergiannya. Tamparan keras mendarat dipipiku, perih. Kali ini dia hanya memandangiku marah tanpa kata dan tangis. Dengan sekuat tenaganya aku diorongkan kesamping. Sia lantas membuka pintu dan membantingkannya.
"Magda kita bicara sebentar saja tolonglah," pintaku. Magda diam tak perduli. Dia memacu motornya tanpa mengatakan sepatah kata. Aku kaget setengah mati, tak menyangka Magda berlalu begitu saja. Berlalu jugakah cintanya...?
Empat tahun bersamanya kini terhempas kelembah terjal nan cadas hanya karena pariban yang tertidur letih di dadaku, atau karena sebotol manson....? (Bersambung )
Anak manusia yang terdampar jauh dari tempat kelahirannya dari salah satu kabupaten Aceh. Pada usia 15 thn merantau ke kota Medan,menamatkan sekolah lanjutan atas dan perguruan tinggi, kemudian thn 1978 ke Jakarta hingga thn 1990 sebelum hengkang ke California, USA, January 1991.
"Magdalena"; Dosenku "Pacarku ": & "Telaga Senja"
http://tanzung.blogspot.com/
; http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/