Thursday, February 26, 2009

Dosenku "Pacarku" (42)


I'll always remember/ It was late afternoon/It lasted forever/And ended to soon/You were all by yourself Staring up at a dark gray sky/And I was changed

*) In places no one would find/All your feelings so deep inside/It was then that I realized That forever was in your eyes The moment I saw you cry

It was late September/And I'd seen you before/You were always the cold one/But I was never that sure You were all by yourself/Staring up at a dark gray sky/I was changed

[Chorus]
I wanted to hold you/I wanted to make it go away/I wanted to know you /I wanted to make your everything, all right I'll always remember.../It was late afternoon
[Chorus 2xs Out]
===============
" Oh...iya, aku akan utarakan, tetapi kita makan dulu. Aku sudah siapkan dimeja, ayo bang," ajaknya seraya menarik lenganku. " Tapi abang mandi dulu," tambahnya.
===============
"Zung, kita lupakan yang baru saja terjadi," ujarnya, dia masih memelukku.
"Susan, maaf, barangkali itu hanya ekspresi kekecewaanku. Aku juga tidak tahu kenapa aku kesal mendengar jawabanmu, padahal sepatutnyalah kamu harus mendengar suamimu. Susan menarik tanganku sembari menciumku, " Bang, aku putarkan lagu kesayangamu, tetapi abang harus nyanyi. Ayo bang temani aku ," bujuknya manja.

"Aku capek, dan lagi sudah terlalu malam,"balasku. Berulangkali Susan membujuk agar aku bernyanyi mengikuti lirik lagu yang diputarnya," suaranya pelan saja bang, aku ingin menikmati suaramu. Ayo bang bernyanyilah untukku malam ini," bujuknya seraya mendekapkan wajahnya diatas dadaku.

Susan meraih kedua tanganku, melingkarkankan diatas pinggulnya. Dia mulai melangkah pelan mengikuti senandung berirama lembut. " Zung, bawalah aku malam ini dengan langkahmu...ayo bang...kenapa diam,?" tanyanya.

Sementara aku masih putar otak, kapan waktu yang pas aku membujuknya (lagi) menuturkan kisah pernikahannya, aku dikagetkan dengan hentakan suaranya, " bang......ayo..kataku, melangkahlah untukku, kenapa diam," sentaknya sambil memukul-mukul dadaku dengan kedua tangannya.

Segera aku memeluknya, erat," iya...iya...aku akan ikut langkahmu," ucapku. Susan mendekapku erat sekali sembari memperlambat langkahnya hingga diakhir lagu.
" Zung, aku lelah, temani aku tidur," ajaknya sambil menarik kedua tanganku.
"Susan, aku akan menemanimu tidur setelah kamu turturkan kisah pernikahanmu seperti yang kamu janjikan, atau aku pulang."
"Iya...bang, aku aku tuturkan sambil rebahan. Badanku pegal bang."
"Tidak, aku mau mendengarkan disini," ujarku sambil mengangkat tubuhnya keatas sofa. Susan segera bangkit dari sofa, dia meneguk sisa minuman dari gelasnya.

" Ok...bang, aku mulai dari mana."
" Terserah dari mana, mau dari awal atau akhir asal jangan dari tengah, susah mengikuti ceritanya." Susan merebahkan tubuhnya diatas pangkuanku, sebelumnya dengan gemas menggigit daguku, " Hah........Zung...akhirnya aku menemukan seorang pria yang mau mendengar sengsara yang aku tahan bertahun-tahun.

Semoga penuturanku ini dapat melepaskan derita batin yang sangat menyiksa. Tapi, Zung...berjanjilah, bahwa abang tidak akan pernah menceritakan semuanya ini kepada siapapun."
" Tidak, tidak Susan. Aku akan menyimpan semua tuturanmu malam ini, aku janji." ucapku sambil memberi dia ciuman hangat tanda apresiasiku. Susan memulai kisahnya dengan gaya bertutur, setelah aku agak lama aku menunggu.

" Zung, seperti pernah aku utarakan, sejak es-em-a aku tidak pernah bersahabat dengan seorang pria, setelah aku mengalami trauma ketika di es-em-pe. Pengalaman buruk itu membuat aku benci dan muak melihat setiap pria, apalagi kalau pria itu ingin mendekatiku."

" Susan pernah diperkosa, berapa kali ?" tanyaku tak sabar.
" Nggak bang," jawabnya, tangannya menampar wajahku.

" Maaf...aduh aku nggak sabaran, ayo sayang teruskan," desakku. Susan hampir mogok, terpaksa aku beri"amunisi" lagi, sambil membujuknya.

" Ketika itu, habis ujian, kelas kami menyelenggarakan acara perpisahan dirumah teman. Sebenarnya ibu tidak mengijinkan aku pergi, tetapi karena aku beritahu bahwa acaranya dirumah teman pria itu-- ayahnya satu kantor dengan ayahku-- akhirnya ibu mengantarkanku. Usai acara malam itu, aku tinggal sendirian menunggu dijemput. Teman pria itu menemaniku diteras rumahnya. Seperti biasanya disekolah, kami sering bergurau. Tetapi entah kenapa malam itu, dia seperti kesetanan mau menciumku. Aku kaget, mau berteriak, tetapi aku takut dia akan memukulku. Aku lari masuk kerumahnya, untung ibunya belum tidur."

" Jadi dia belum sempat menciummu, kenapa nggak kau ludahi mukanya?" tanyaku.
" Bang......diam dulu," teriaknya manja.
" Nggak lama kemudian ibu menjemputku, tetapi malam itu aku tak bisa tidur. Aku sakit hati."

" Mestinya dia minta baik-baik !" ucapku iseng. Lagi-lagi Susan menampar wajahku sambil membalikkan tubuhnya, masih dipangkuanku. Susan mogok lagi. ( Bersambung)

Los Angeles, February 2009

Tan Zung
http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Dosenku "Pacarku" (41)


" When A Man Loves A Woman"
When a man loves a woman/Cant keep his mind on nothin else Hed trade the world/For a good thing hes found If she is bad, he cant see it/She can do no wrong Turn his back on his best friend/If he puts her down

When a man loves a woman/Spend his very last dime Trying to hold on to what he needs/Hed give up all his comforts And sleep out in the rain/If she said thats the way/It ought to be

When a man loves a woman/I give you everything I got (yeah) /Trying to hold on/To your precious love/Baby please dont treat me bad

When a man loves a woman/Deep down in his soul/She can bring him such misery /If she is playing him for a fool/Hes the last one to know/Loving eyes can never see

Yes when a man loves a woman/I know exactly how he feels/cause baby, baby, baby /I am a man/ When a man loves a woman


===============
Beruntung lah aku punya teman seperti Magda, hatinya tulus dan rendah hati. Usulannya seperti mendapatkan mata air di padang pasir.
===============
Dengan sangat berat hati, Sabtu pagi aku berangkat ke Brastagi dengan Susan, menghadiri arisan ibu-ibu teman sekantor suaminya. Aku menolak rencananya menginap disalah satu losmen dikota itu, setelah acara arisan usai.

Berulangkali dia membujukku untuk bernyanyi dalam arisan itu, selalu aku tolak. Susan tidak tersinggung atas penolakanku, memang suaraku sedikit serak. Selain itu, dikepalaku masih terngiang nasihat Magda, meski diselingi dengan cemohan.

Aku berusaha pulang lebih awal, karena ingin menghadiri pertemuan dengan kawan-kawan kelompok belajar dirumah Mawar. Tetapi Susan selalu membujuk agar aku bersabar, " Zung, tanggung, nanti mereka pada ribut kalau kita pulang duluan. Ntar mereka akan berpikir macam-macam.

Kalau abang tidak mau menginap nanti malam, kita pulang bersama dengan mereka," ujarnya. Aku berusaha menutupi rasa dongkol, takut dia tersinggung, untuk sementara nasib perkuliahanku masih tergantung dengannya.

Selama dalam perjalanan pulang, pikiranku terus pada pertemuan malam dirumah Mawar. Susan merasakan perubahan sikapku dibanding dengan beberapa hari lalu, padahal aku sudah berusaha menutupinya.

"Abang merasa menyesal ikut aku satu hari ini? Tampaknya abang kurang bergairah. Atau ada yang membani pikiranmu, mungkin aku bisa bantu,?" tanyanya.
" Oh...nggak ada...hanya sedikit badanku kurang sehat," jawabku.
" Benar bang...abang nggak menyesal ikut aku.?" tanyanya ulang, tangannya mengelus pipiku.
" Nggak....aku senang kok, bisa ketemu ibu-ibu cantik dan genit."
" Ibu-ibu genit..? Itu hanya perasaanmu saja. Abang masih sanggup nyetir atau aku ganti ?"
" Sanggup, terus saja ngomong, sesekali cubit pahaku biar aku nggak ngantuk."
" Halah..abang maunya. Nantilah kalau sudah tiba dirumah aku pijitin."

"Susan, aku minta tolong antar aku malam ini kerumah. Aku sudah janji pada bibi jagain anak-anaknya. Dia mau pergi ketempat saudaranya."
" Abang jaga anak-anak..?"
" Kenapa, mereka sepupuku. Apa yang aneh..?" tanyaku.
" Nggak ada..." jawabnya ketus.

Sejak saat minta aku diantar pulang, Susan diam, wajahnya cemberut selama perjalan. "Susan ngomong...nanti aku ngantuk, atau mau kita kecebur kejurang ? Iya..iyalah aku nanti tidur dirumahmu, tetapi antar aku besok.!"
" Kan...abang suka ngerjain!" balasnya sambil mencubit lenganku.
***
Dering telephon menyambut kedatangan kami sementara jarum jam menunjuk ke angka delapan. Segera Susan mengangkat telephon. Terdengar percakapan dengan suaminya di London. Telephon suaminya mengingatkanku sekaligus "menuntut janji" Susan perihal pernikahan dengan suaminya.

Bebeberapa kali aku pertanyakan selalu dia mengelak. Sementara dia berbicara dengan suaminya, aku merebahkan diri dikamar tidur, mengendurkan urat yang kelelahan mengenderai mobil dari Berasatagi. Sepoi udara malam berembus melalui kamar jendela yang lupa aku tutupkan, menutup kelopak mataku sempurna. Susan menyentakkan rangkaian mimipiku yang sedang bergayut indah bersama mantan kekasihku.

" Zung...bangun, abang keletihan,?" suaranya mendesah ditelingaku. Aku menggeliat ditempat tidur sambil menggerakkan seluruh tubuhku, meski hanya sebentar, rasa pegal terasa pulih kembali.
" Zung, aku tadi janji mau pijitin abang malam ini, abang masih terasa lelah,?" tanyanya.
"Susan, janji adalah utang. Tetapi masih ada janjimu yang selalu kamu ulur waktu untuk melunasinya!"

" Janji yang mana bang..?"
" Tentang pernikahan dengan suamimu!"
" Oh...iya, aku akan utarakan, tetapi kita makan dulu. Aku sudah siapkan dimeja, ayo bang," ajaknya seraya menarik lenganku. " Tapi abang mandi dulu," tambahnya. (Bersambung)

Los Angeles, February 2009

Tan Zung
http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/