"Kisah Tanzung" merupakan cerita kehidupan masa-masa muda, ketika dua anak manusia jatuh dalam kehidupan cinta kasih sebagaimana layaknya orang kebanyakan.
Aneka warna kisah kasih dalam perjalanan cinta kasih adalah satu kewajaran; berakhir dengan sukacita atau dengan kepedihan, satu diantaranya menjadi akhir bagi pemeran itu sendiri.
============== Aku mulai mencium wewangian semerbak bunga malam berkuncup pagi. Setelah menghabiskan serapan pagi, aku minta tolong kepada Magda untuk mengantarkan aku pulang kerumah, mandi dan ganti pakaian. ==============
Seperti biasa, bibi menyambutku "heboh" apalagi karena aku datang dengan perempuan. "Bapa nginap lagi....? Bapa nginapnya bergiliran iya," tanyanya pelan diiringi tawa setelah Magda keluar dari kamarku. " Bibi...! Nanti dia dengar, nggak enak," ingatku. "Makanya aku bicara pelan, supaya nggak kedengaran," balasnya sambil ketawa ngakak meninggalkan kamarku.
Magda tersenyum simpul, ketika aku keluar dari kamar mengenakan pakaian hampir sama seperti yang dia kenakan, jeans dan t-shirt, yang dia belikan waktu ulang tahunku sebelum hubungan kami putus. Tiba-tiba bibi berceloteh dari dapur ketika aku dan Magda hendak pergi, " Bah...pakaiannya sama, cantik sekali. Bapa nggak usah pakai tongkat lah biar kelihatan gagah. Apalagi bergandengan dengan Magdalena," ujarnya cengengesan.
Magda setuju usulnya. " Ya, bang nggak usah pakai tongkat, nanti aku bantuin kalau abang jalan." Bibi ngoceh lagi. " Jalannya, pelan-pelan saja bapa, biar kayak pengantiiinnn...!" Magda tersenyum mendengar ocehannya, sambil memegang lenganku melangkah keluar rumah.
" Jangan biarkan bapa main bola lagi," celoteh bibi.
Magda tak kuasa menahan ketawa mendengar "jabir'nya bibiku. "Iya..iya bi, aku jagain dia supaya nggak main bola dan nggak mandi lagi di sungai."
"Abang cerita kepada bibi bahwa kaki abang terkilir karena main bola?" " Iya, pengakuanku sama seperti kepada mami, hanya kepada Magda aku berkata jujur."
***
"Magda, sepertinya kakiku sudah agak baikan. Biar aku yang bawa motornya." "Nggak ah, nanti aku dimarahin mami. Abang malu kalau di bonceng iya?" " Nggak juga. Ya sudah, tapi nanti aku bisa pegang pinggang Magda?" " Terserah, tapi jangan salahkan aku kalau ibu Susan marah kepada abang."
" Boleh mampir sebentar ke kantor ibu Susan? Aku ada yang perlu," ujarku menguji hatinya. " Serius ini, aku antar abang kesana?" " Magda berani?" " Demi sahabat, aku antar sekarang, tak peduli kalau Susan marah." Magda sungguhan, kami menuju kampus. Dia parkirkan motor agak jauh dari kantor Susan. " Ah...ternyata Magda takut juga, kok parkirnya jauh sekali, lagi, manalah aku tahan jalan sejauh itu." " Maaf bang, aku nggak sadar kalau kaki masih sakit. Aku bukan takut, aku juga mau pergi dengan abang menemuinya."
Magda parkir persis depan kantor Susan. Tak merasa canggung, Magda menuntunku ke depan ruangan Susan. Magda mengetuk ruangan Susan, tak ada jawaban. Sebenarnya, aku tahu, saat itu Susan nggak ada di ruangannya, hari ini dia masuk kantor pada siang hari. Aku hanya menguji keberaniannya. (Bersambung)
"You're in my heart" I didn't know what day it was/When you walked into the room/I said hello unnoticed/You said goodbye too soon Breezing through the clientele/Spinning yarns that were so lyrical/I really must confess right here/The attraction was purely physical
I took all those habits of yours/That in the beginning were hard to accept/ Your fashion sense, beardsly prints /I put down to experience The big bosomed lady with the dutch accent/Who tried to change my point of view /Her ad lib lines were well rehearsed/But my heart cried out for you
Chorus: You're in my heart, you're in my soul/You'll be my breath should i grow old/You are my lover, you're my best friend /You're in my soul My love for you is immeasurable/My respect for you immense/You're ageless, timeless, lace and fineness .........
=============== Ah....wajahnya kuyu, mata sembab, tetapi sepertinya hati masih berbunga-bunga. Aku semakin bingung "menerjemahkan" semua kejadian sejak tengah malam hingga pagi ini. Ada apa diantara tangis dan tawa.? ================
Kedatangan mami Maga dari pasar membuyarkan scenario pagi ini. " Sudah bangun kau amang. Sampai pukul berapa kalian tidur tadi malam.?" tanyanya.
"Agak malam inanguda, keasyikan cerita kampus," jawabku. "Sudah bangun itonya.?" tanyanya. " Sudah, dia sedang mandi.!"
Inanguda mencegah, ketika aku mau membantu mengangkat barang belanjaannya dari beca. Dari teras, aku mendengar inang uda menegur Magda, " Kenapa nggak kau buatkan teh sama ito mu.?"
" Iya mam, tadi aku mau buatkan, tapi abang bilang nanti dulu." Takut aku memprotes kebohongannya, Magda buru-buru keluar menemuiku, jari telunjuknya ditempel di depan bibirnya, pertanda, abang diam. Aku merasa geli melihat tingkahnya. Tidak lama kemudian, Madga membawa secangkir teh dengan dua potong roti .
"Magda, kamu nggak pernah tawarkan teh sama ku sejak aku bangun, malah kamu membiarkan ku sendiri duduk bengong di teras ini."
" Bang, sebagai sahabat, harus memaklumi situasi ketika sahabatnya kepepet." ujarnya menirukan "nasihat" ku memaknai sahabat, tadi malam.
Aku memandangi kujur tubuhnya dibungkus sepasang pakaian yang aku pilihkan dulu ketika merayakan ulang tahunnya setahun sebelum pisah; jeans dan t-shirt dengan gambar setangkai bunga mawar didepan. " Kenapa memandangi ku seperti itu bang.?" ujarnya sambil mengambil tempat duduk disamping, dia menghadapku.
" Aku hanya teringat seseorang. Ketika itu dia merajuk besar, bahkan hampir nggak jadi merayakan hari ulang tahunnya karena aku datang terlambat. Sahabatku itu terus diam selama perjalanan menuju Kesawan ketika ingin membeli sepasang pakaian.
Sebelumnya dia berujar padaku, mau merayakan ulang tahunnya secara sederhana dan pakaian sederhana. Aku mengusulkan, agar kami berpakaian yang sama; jeans dan t-shirt. Awalnya dia menolak, tetapi akhirnya dia setuju usulanku.
Ketika itu aku memang berjanji akan datang pukul sembilan tepat, tetapi karena kemacetan di jalan, aku terlambat lima menit. Aku tiba, wajahnya cemberut, aku minta maaf ketika itu , tetapi dia diam terus hingga kami berangkat.
Selama dalam perjalanan dia tak mau memandang ku di dalam beca seperti biasanya. Karena kesal, aku ingin meloncat mau bunuh diri melihat tingkah teman ku itu."
Magda tertawa lepas, " Kok mau bunuh diri, meloncat dari atas becak pula, itu namanya bunuh diri ecek-ecek bang.!" "Terserah dibilang ecek-ecek, yang pasti kan ada kata bunuh dirinya, pertanda rasa kesal." balasku.
"Siapa dia itu bang, kok menjeng amat, terlambat lima menit langsung merajuk.?" tanyanya. " Magdalena Elisabeth, mantan kekasih Tan Zung yang kini sedang terabaikan." jawab ku.
" Nggak ah.., abang mengada-ngada, ceritanya tidak seperti itu. Magdalena Elisabeth waktu itu marah, bukan merajuk, karena orang yang bernama Tan Zung itu matanya jelalatan melihat perempuan sedang berlalu di depan rumah, di depanku pulak lagi.
Iya.. jelas marahlah si Magda Elisabeth itu. Di depannya saja sudah mata jelalatan, apalagi dibelakangnya." ujarnya serius.
" Si Magda saat itu terlalu cemburuan, sebenarnya Tan Zung hanya melihat rambut perempuan itu, kebetulan panjangnya seperti rambut Magda."
" Memang, yang namanya Tan Zung itu paling bisa mencari-cari jawaban, mau menang sendiri." ujarnya mengukir senyum.
Magda mengoreksi cerita dulu, memang dia benar seratus persen. Aku sengaja poles ceritanya, memancing, kalau dia masih tertarik kisah lama kami. Aku mulai mencium wewangian semerbak bunga malam berkuncup pagi. Setelah menghabiskan serapan pagi, aku minta tolong kepada Magda untuk mengantarkan aku pulang kerumah, mandi dan ganti pakaian. (Bersambung)
Anak manusia yang terdampar jauh dari tempat kelahirannya dari salah satu kabupaten Aceh. Pada usia 15 thn merantau ke kota Medan,menamatkan sekolah lanjutan atas dan perguruan tinggi, kemudian thn 1978 ke Jakarta hingga thn 1990 sebelum hengkang ke California, USA, January 1991.
"Magdalena"; Dosenku "Pacarku ": & "Telaga Senja"
http://tanzung.blogspot.com/
; http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/