Friday, January 23, 2009

Magdalena 13

http://www.youtube.com/watch?v=nSz16ngdsG0

======================
“Bang, kirim salam sama mamatua dan bapatua serta adik-adik, sama Sinta juga” katanya sesaat bus akan meninggalkan terminal. Mendengar Magda menyebut nama Sinta aku terhenyak.
======================

Romantika cinta yang berlangsung beberapa jam lalu diruang"perpustakaan" Magda, menguatkan hatiku untuk melupakan masalah tabu sebagai penghalang hubunganku dengan Magda. Tekadku bulat harus mempersunting Magda apapun yang menjadi resiko. Aku berharap, ibuku dapat memahami keberadaanku dalam persoalan super ribet ini .

Setelah melewati perjalanan panjang dan sangat melelahkan, aku tiba dikampung disambut hujan lebat diiringi kilatan halilintar. Segera aku berlari dari perberhentian bus menuju rumah. Ayah menyambut kedatanganku dengan wajah heran.

"Bagaimana keadaan ibu," tanyaku tak sabar.
" Ibumu sehat!,' jawab ayah tak kalah heran.
"Kata Sinta ibu sakit,"
"Oh...ya... memang dua minggu lalu tetapi kena serangan flu ringan saja. Ibu dan ompung mu pergi dirumah tulang, sebentar lagi ada acara syukuran. Selain baru menamatkan sarjana mudanya Sinta telah diterima mengajar di SMA Labuhan Deli . " Istrahat dululah kau sejenak amang,( nak, pen) sebentar lagi kita kesana ," kata ayah.

Menjelang malam, aku dan ayah menyusul ibu kerumah tulang. Disana telah berkumpul sejumlah famili, penetua dan pendeta. Wajah Sinta sumringah melihat kedatanganku malam itu, tak sedikitpun menunjukkan merasa bersalah. Aku berusaha menutupi rasa kesal ulah paribanku yang memang cantik mirip ibuku itu. Sinta dan keluarga sedang dalam suasana sukacita, sungguh tak beradab bila aku menunjukkan sikap bermusuhan.

Aku beri ucapan selamat kepada Sinta yang duduk diapit nantulang dan tulang. Tampaknya ibu tak sabar dia menyongsongku dan memelukku erat, "ro do hohape amangdatang juga kau nak, pen), " ibu mendekap ku dengan sukacita.
" Kata ayah kau nggak bisa pulang liburan ini karena sedang persiapan skripsimu," tambahnya.
Aku diam saja tak menjawab, takut kecoplosan dan mengatakan kalau kedatangaku karena ulah Sinta.
***
Sinta mengajakku duduk persis disebelah tulang. Tulang mengangagguk tanda setuju. Dalam hatiku gemas, tunggu acara bubar, ku podal ( bekap mulut, pen)kau nanti Sinta. Perasaan bosan menghinggapiku, pikiran masih nyangkut di"perpustakaan" Magda. Ragaku bersama Sinta dan keluarga tulang, sementara hati dan jiwaku berkelana keharibaan Magda. Dalam angan melayang, ada juga hikmahnya ulah Sinta pikirku, a blessing in disguise. Tanpa ulah Sinta, peluang seperti yang baru saja terukir di kamar kost, belum tentu seromatis tadi pagi dengan Magda.

Ya..beberapa jam lalu aku dan Magda berlayar jauh menyelusuri lautan luas dengan sejuta harapan. Semangat dan kasih sayangku semakin berbunga-bunga kepada Magda. Hatikupun telah bertekad meskipun sedikit nekat karena nyerempet adat-istiadat.
***
Para undangan dan kerabat satu-satu meninggalkan acara syukuran. Aku tak sabaran lagi menunggu semua pulang, aku mau segera podal pariban nakal ini. Tapi segera aku urungkan niatku setelah sadar dia ini pemain silat handal. Lha manapun nanti yang ku podal pasti dia mengelak, pikirku. Kan nggak lucu dia tarik jurus didepan ibu, ompung dan tulang. Akhirnya aku batalkan niatku.

Kumainkan jurus baru, sandiwara. Kuajak dia antarkan ibu dan ompung pulang kerumahku." Iya bang, tunggu aku ganti sepatu," katanya sambil bergegas kedapur. Ibu sudah siap berangkat, ompung mandek.

"Tunggu dulu sebentar, pahundul jolo disi, (kamu duduk dulu disitu, pen)" perintah ompung. Ompung pasti heppot ( reseh, pen) lagi nih pikirku.
Sinta, ibu dan aku duduk berdekat sementara tulang dan nantulang ( ibu Sintauli) meninggalkan kami. Memang kelihatannya nantulang kurang sehat.

"Ai aha dope pinaimam hatahon ma tutulangmi(Apalagi yang kau tunggu bicaralah sama tulangmu, pen)
Sinta sudah kerja nanti dapat membantu menyelesaikan sekolahmu. Bulan depan dia sudah mengajar di Sungai Deli," katanya semangat. (Bersambung)

Los Angeles, January 2009

Tan Zung

http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Magdalena( 12)

http://www.youtube.com/watch?v=siBoLc9vxac


==================
“Naik bus, taksi luar kota mahal sekali,” jawabku
“ Aku ikut bang, naik taksi saja kita. Aku bilang nanti sama papi, kebetulan kita lagi libur dua minggu kan,”?
“Bah, kau mau ikut.?????”
=================
“ Magda..... kamu mau ikut ke kampung,?” tanyaku seakan tak percaya. Sungguh aku terperanjat bukan kepalang. Aku semakin mengagumi ketulusan hati ito sekaligus pacarku Magda .
Aku.... selama ini hanya hanyut dalam pertimbangan-pertimbangan konyol dan sering bodoh. Aku jadi muak terhadap diriku sendiri. Kadangkala aku berpurapura menutupi ketololanku.

“Boleh aku ikut bang,? agar aku permisi sebelum papi berangkat kekantor,” bujuknya. Ajakan dan perhatiannya begitu besar terhadapku membuat diriku semakin kecil dihadapannya.

Kali ini aku jatuh hingga ke titik nol dan cengeng. Kupeluk dia sambil aku berbisik ditelinganya, “Magda terimakasih, lain waktu saja kita pergi bersamaku." Ku kecup pipinya kemudian merangkul rapat sambil membenamkan wajahku dipundaknya. Aku malu dia melihat tetesan air mataku. Magda mengelus kepalaku. Ternyata diapun larut dalam kesedihan.

“Sakit apa mama? dirumah sakit mana di opname,” tanyanya .
Aku hanya menggelengkan kepala masih dalam rangkulannya.Magda membiarkan kepalaku bersandar dipundaknya, dia mengusap kepalaku . Magda mencium pipiku berulangkali, “Berdoa kita bang,”ajaknya. Usai berdoa, Magda meninggalkanku sejenak.

“ Magda ambil air panas dulu bang,’” katanya sambil membawa termos kerumah induk kostku.
“Minum dulu bang ,” katanya sambil menyeduh kopi hasil ”jarahan” dari rumahnya. Matanya masih merah, basah. “Kalau nggak boleh ikut, akulah yang mengantar abang keterminal besok pagi,” pintanya.
Terimakasih sayang --kali pertama kupanggil sayang-- aku sudah pesan teman satu kampung ku untuk mengantarkan keterminal.

“Nggak bang, aku yang antar. Aku pulang dulu ganti pakaian,”katanya. Magda bergegas meninggalkanku. Aku diam, tak mau lagi berbuat bodoh. Tak lama kemudian dia datang dengan mobil Hardtop mobil dinas papinya.
Magda menanyakan tas pakaianku. Waduuhh...sampai aku terlupa karena terlena atas ketulusan hatinya, really pure.

Kuambilkan koper kecil dari kolong tempat tidurku. Magda membuka lemari mini tempat pakaianku.
“Berapa pasang mau dibawa bang,” tanyanya sambil memilih beberapa pasang pakaianku.
‘Cukup dua pasang . Kalau kebanyakan bisa-bisa aku tak ingat pulang , nanti kau kesepian,” ujarku tersenyum.
“Abang jugalah ...ahhh.” katanya sambil melemparkan t-shirt ke kepalaku.
***
“Pak, kita ke Jln. Bintang dekat pasar Sentral,” katanya kepada sopir dinas papinya.
Didalam mobil menuju terminal , “Ini titipan mami sama mama tua dan bapak tua dikampung,” ujarnya.
Aku yakin bukan maminya yang beli, pasti Magda. Tanganku terasa berat menerima.

“Masih ada uangmu bang,” tanyanya.
Soal uang memang dia tak mau lagi main sodor. Dia trauma, satu saat aku marah ketika dia membayar, diam-diam, minuman kami di kantin. Untuk urusan ”gengsi”ini aku paling rawat habis. Niru-niru anak Medan.

“Iya aku masih punya. Nantilah kalau aku pulang kau yang bayar minuman kita,” ujarku.
Magda tertawa. “Betul ya bang aku yang bayar,” ujarnya.
Aku tak mau lagi larut dalam sedih. Aku mau meninggalkan Magda dalam keadaan ceria.

“ Kalau Jumat nanti aku belum kembali, kau dan Mawarlah pergi kepesta Bistok.”
“ Kalau abang belum datang, aku nggak pergi,” ujarnya
“Ngga enaklah tadi malam kita sudah janji sama dia ,” ujar ku.
“Lihat nantilah bang, urus mamatua dululah,” katanya. Lagi-lagi kalimatnya menyentuh hatiku.

Aku serahkan kunci kamarku kepadanya. “Magda titip kunci ruang perpustakaan kita.” kataku.
Magda kembali ”pulih”, dia memelukku dan mendekatkan wajahnya kewajah ku.
“Ya sayang,” balasnya.
Sebelum bus berangkat, kami masih sempat bercengkrama di mobil dinas papinya. Orang-orang sekitar kami sesekali melirik kami di dalam mobil.

“Bang, kirim salam sama mamatua dan bapatua serta adik-adik, sama Sinta juga” katanya sesaat bus akan meninggalkan terminal. Mendengar Magda menyebut nama Sinta aku terhenyak. (Bersambung)

Los Angeles, January 2009

Tan Zung

http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/