Sunday, March 15, 2009

Dosenku "Pacarku" (84)

=====================
" Maaf aku terlalu merasa. Maya sakit apa? Ketika aku tinggalkan malam itu, dia sehat, akupun tidak melihat ada gejala sakit. Kak, katakan saja sesungguhnya apa yang terjadi dengan Maya?"
======================
" Ketika Tan Zung pulang, tante ribut dengan om John. Tante nggak setuju kalau om John mencampuri urusanku dan Maya perihal berteman dengan lelaki manapun, kecuali yang sudah bersuami. Om John ngotot, silahkan Maya berteman dengan lelaki manapun asal bukan dengan Tan Zung."

" Apa dasar keberatan om John jika aku berteman dengan Maya ?" tanyaku.
" Aku juga nggak tahu pasti, tetapi kemungkinan, karena dia tahu kamu berhubungan dengan Susan."
" Baiklah ! menurut kakak aku harus bagaimana.?"
" Aku mendukung hubungan kalian, nggak usah terlalu dipikirkan sikap om John. Mungkin setelah Tan Zung selesai sidang dan dia tahu kalau kamu tidak lagi berhubungan Susan, om pasti berubah."
" Jadi maksud kakak, aku dan Maya selama sebulan ini "puasa" dulu?"
" Kan nggak lama itu, " ujar Lisa sambil mengajakku pulang.
***
Magda heran melihatku ketika tiba dirumahnya. " Abang bilang mau tinggal di kampung dua minggu, kok baru seminggu sudah kembali, abang rindu kepada Susan.?"
" Iya aku rindu kepada kalian bertiga."
" Kok bertiga,?" tanya Magda serius
" Magda, Susan dan tongkatku." Magda tak dapat menahan ketawanya.
" Aku sudah bakar tongkat abang," ujarnya masih ketawa.
" Iya aku tahu itu, aku mencium baunya hingga kekampung. Paling tidak, sekarang, aku mau melihat abunya."
***
Seperti biasanya, maminya Magda menyambutku hangat. Aku bercerita tentang pernikahan Sinta, sebelumnya aku menyampaikan salam dari kedua orang tuaku. Magda bersemangat menanyakan pesta pernikahan Sinta.
" Abang dapat sahabat baru disana?" tanya Magda. Maminya segera meninggalkan kami setelah mendengar pertanyaan Magda dan berujar, " eehee.. tahe borukhon( oalah...putriku ini, pen)"

" Iya aku ketemu, tetapi dia sekarang sedang di pasung," ujarku.
" Zung serius?"
" Serius lah, tak kau lihat abang lemas tak bergairah?"
" Oalah.. nasibmu bang. Ada perempuan bebas, abang memasungkan diri. Sekarang abang sudah bebas, sahabatmu yang terpasung, kasihan!" ucapnya berpura-pura sedih.

" Magda, jangan kamu tambahkan penderitaanku. Telephon lah Mawar biar kita mulai diskusi."
" Diskusi tentang perempuan yang terpasung?" tanyanya ngenyek.
" Magda bilang mau belajar, mengulang, kok sekarang bicaramu ngelantur.?"
" Iya, mana buku abang, pena juga nggak punya!?"
" Kan kau punya. Apa bedanya bukuku dengan bukumu," sahutku
" Nggak! Abang pulang ambil buku, catatan dan skripsimu," balasnya lagi dengan setengah teriak.

Mami Magda menemui kami ke ruangan tamu sambil geleng- geleng kepala. " Kapan kalian bisa akur. Setiap ketemu pasti ribut."
" Si abang buat gara-gara. Mau belajar tapi nggak bawa apa-apa, enak saja si aban," katanya kesal.
"Apa bedanya dengan bukumu, namanya belajar bersama itu harus akuran." ujar maminya.

Magda pergi melengos mendengar pembelaan maminya kepadaku. Magda menelephon Mawar supaya bergabung dengan kami.

" Mawar datang kesini, bapak Tan Zung sudah datang. Bawa bukumu." ucapnya ditelefon. Aku geli mendengar Magda berucap " bapak Tan Zung "
" Bagaimana bu, sudah boleh kita mulai,?" tanyaku.
" Si Susan ibumu bukan aku," balasnya masih merasa kesal meninggalkan aku diruang tamu.
Magda keluar dengan membawa sejumlah buku. Tampak dia keberatan menahan beban dalam pangkuannya. Aku menyusul ingin menolongnya tetapi dia tidak mau melepaskan satu bukupun aku pegang.
" Berikan padaku sebagian, atau aku pangku kau berikut buku-bukunya ke teras, mau?" ancamku.

" Huh...nih, abang," ujarnya seraya menyerahkan semua yang ada ditangannya.Sayang, tanganku tak mampu memegang semua buku itu. Magda mengomel ketika buku-buku itu bertaburan di lantai. " Abang sok mau memangku orang, buku sajapun tak dapat abang pangku," ujarnya sambil membantuku mengangkat buku yang bercereran, Magda terus mengoceh sambil berjalan ke teras. (Bersambung)

Los Angeles, March 2009

Tan Zung

http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Thursday, March 12, 2009

Dosenku "Pacarku" (83)

================
" Bang, gantian, istrahat lah sebelum kita sampai," ucapnya. Maya tersenyum dan membiarkan ketika rambutnyaku gerai menutupi wajah ku.(
================
Lisa, kakak Maya menyambut kami dengan heran. "Kok Maya sudah pulang? Bukankah rencanamu kembali minggu depan,?" tanyanya.
" Aku bosan di kampung," jawabnya.
Lisa mengalihkan pembicaraan ke arahku. " Hei.. Zung, bagaimana urusanmu dengan Susan," tanyanya. Belum aku jawab, tante Maya muncul dari kamarnya. Aku perkenalkan namaku.
" Oh...ini yang bernama Tan Zung. Apa khabarmu? Kapan kamu sidang?" Maya langsung menjawab. " Bulan depan," jawab Maya.

Tante melirik Maya usai menjawab, kemudian bertanya, " kenapa Maya buru-buru kembali?" Maya memberi jawaban yang sama seperti kepada kakaknya Lisa. Setengah jam berselang, om Maya, John, teman dosen Susan beda fakultas tiba dari perjalanan. Maya memperkenalkan diriku dan memberitahu bahwa kami baru tiba dari kampung.

" Aku tahu, tetapi aku nggak tahu kalau Tan Zung satu kampung dengan Maya, " ujar om Maya. Sebelum pembicaraan berlanjut tentang Susan sebagaimana ditanyakan Lisa, aku segera mohon diri, pulang. Aku heran dari mana pula om John mengenalku.

Malam minggu berikut aku berkunjung kerumah Maya, Lisa menyambutku dengan ramah. Dia tersenyum dan berujar, " rupanya kamu sudah pacaran dengan adikku iya. Aku tak melarang kalian berteman, tetapi selesaikan dulu urusanmu dengan Susan," saranya

" Iya kak, tetapi setelah aku selesai sidang."
Lisa tetap duduk bersama aku dan Maya. Kami bicara masa -masa remaja di kampung, hingga akhirnya menceritakan gagalnya hubunganya dengan seorang lelaki. Lisa menuturkan kegagalannya dengan lelaki pacarnya karena keluarga terlalu banyak ikut campur dan mantan pacarnya pun tak punya pendirian, hanya mendengar apa kata ibunya.
" Belum jadi saja sudah mau mengatur, lebih baik batal. Aku sendiri yang mengundurkan diri," jelas Lisa.

Aku kira Lisa akan meninggalkan aku dan Maya setelah "curhat" kepadaku.Lisa terus duduk bersama dengan kami. Aku sudah siap ancang- ancang pulang, om John dan isteri berserta anak-anaknya tiba. Aku terlambat selangkah, pulang, sebelum mereka tiba. Tante Maya masih bersikap ramah, tetapi om John, menurutku, sikapnya kurang bersahabat. Segera aku meninggalkan rumah itu. Hanya om John tak menjawabku ketika aku permisi pulang.

Dalam hatiku, "lanteung lah kau John, aku berteman dengan Maya, ponakanmu, bukan dengan putrimu." Maya dan Lisa menghantarkanku hingga ke ujung pekarangan rumahnya. Tampak wajah Maya sedikit kecewa atas kepulanganku. Sebelum meninggalkannya, aku mengajaknya bertemu di kantin kampusnya. Maya mengangguk tanda setuju. Lisa mengigatkanku, kalau hari yang aku janjikan adalah hari libur perkuliahan.

Esok harinya aku ke kampus Maya. Menunggu dan menunggu, tak kunjung datang. Aku memutuskan meninggalkan kantin dengan menitip pesan ke ibu penjaga kantin. Belum begitu jauh melangkah dari kantin, Lisa dengan tergesa-gesa turun dari beca dan menemuiku di dalam kampus.

" Maya sakit, dia nggak bisa datang. Tadi dia mau ikut tapi tante melarangnya." Aku mencium aroma tak sedap, aku langsung "tembak" Lisa, " sepertinya om John pada malam itu gayanya tengik. Aku mau pacaran dengan Maya adikmu, bukan dengan putrinya."

Lisa mengajakku ke kantin, " Zung kita bicara dikantin, kebetulan aku haus," ujarnya.
" Zung, kamu nggak boleh marah-marah seperti itu. Om John merasa bertanggung jawab dengan aku dan Maya, karena kami adalah ponakan dan kebetulan tinggal di rumahnya. Tenang saja kamu, aku nggak keberaratan kok"
" Maaf aku terlalu merasa. Maya sakit apa? Ketika aku tinggalkan malam itu, dia sehat, akupun tidak melihat ada gejala sakit. Kak, katakan saja sesungguhnya apa yang terjadi dengan Maya." ( Bersambung)

Los Angeles, March 2009
Tan Zung
http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/