"Kisah Tanzung" merupakan cerita kehidupan masa-masa muda, ketika dua anak manusia jatuh dalam kehidupan cinta kasih sebagaimana layaknya orang kebanyakan.
Aneka warna kisah kasih dalam perjalanan cinta kasih adalah satu kewajaran; berakhir dengan sukacita atau dengan kepedihan, satu diantaranya menjadi akhir bagi pemeran itu sendiri.
============== Malam itu yang kuingat hanya kecupan si Bunga, ternyata si "bodat" satu itu" ujarku hampir mau muntah. Sejak peristiwa itu, lama aku digelari pemain anggar :)) ============
Beberapa hari si bodat itu datang berkunjung ke stand tempat kami pameran. Kalau bukan karena Mawar dan rekan rombongan lainnya, aku mau beri "pelajaran" Usai pameran di gedung Proklamasi, Jakarta, rombongan kembali ke Medan dengan kapal Tampomas kecuali aku dan Mawar. Mawar sahabat Magdalena mengajakku naik pesawat, "aku trauma kejadian malam itu bang, lebih baik kita naik pesawat, aku masih ada sisa uang jalan kita,"ujarnya.
***
Bayang-bayang biduan Tampomas masih berkecamuk dalam ingatan. Beban mata kuliah yang tertinggal selama 10 hari tidak mampu mengusir tragedi itu. Aku segera menuju rumah Magda teman belajar ku sejak kelas tiga es-em-a.
Dia menyodorkan catatan penting mata kuliah yang tertinggal. Aku tekun mencatat dan bertanya hal-hal yang kurang dapat ku mengerti. Dia menjabarkan secara tepat. Memang sejak kami di kelas satu hingga kelas tiga es-em-a Magdalena selalu bintang kelas, hampir semua mata pelajaran dikuasai dan di senangi kecuali olahraga. Mungkin karena guru olahraga sibotak matanya sering jelalatan memandang binar dari ujung kaki hingga kedadanya. Tak jarang pula sibotak ini berpurapura mengajar bagaimana memegang bola volley hanya sekedar ingin menyentuh tangan dan memepetkan pahanya kepaha Magda.
Sabtu siang hingga menjelang larut malam kami habiskan waktu hanya berduaan, belajar. Kedua orangtua dan Jonathan, adik satu-satunya pergi menghadiri pesta pernikahan. Magda sendiri tak pernah mau ikut menghadiri acara pernikahan, menurutnya acara bertele-tele dan sangat menjemukan.
"Aku tadi diajak tapi aku tolak, bosan" ketusnya. Esok hari sepulang dari gereja, aku mampir lagi dirumah menyelesaikan catatan yang masih tertinggal sekaligus menanyakan beberapa tugas akuntansi yang masih tersisa.
Kedua orangtuanya heran setelah melihat hanya aku dan Magda ditataman belakang, tidak seperti biasanya, hari minggu kami lewatkan bersendagurau dengan sejumlah teman naposo di taman kecil dibelakang rumahnya yang asri itu.
"Dimana Mawar, Salomo dan teman lainnya?" tanya mami-papinya serempak.
"Mereka pergi ke warung bu Munah om, " jawabku.
Warung ini sangat disenangi pasangan sejoli, selain racikan bumbunya yang khas, tempatnya agak jauh dari keramaian.
Mami dan Papi Magda yang selalu kupanggil om-tante segera meninggalkan kami. Aku lanjutkan diskusi pelajaran akuntansi dengan Magda.
Mawar satu diantara kelompok belajar kami. Dia adalah sahabat karib Magdalena sejak kecil. Mereka mempunyai hubungan kekerabatan dari pihak ibunya. Mawar jugalah yang sering mengomporiku untuk menjalin hubungan dengan Magdalena.
"Zung ...dia selalu gelisah bila malam minggu kamu tidak datang kerumahnya. Apalagi kalau kamu tidak dilihat di gereja," ujar Mawar.
Jujur, aku akui hubunganku dengan Magda selama dua tahun hanya sebatas teman kuliah.
Kisah kasihku dengan Bunga masih tersimpan dalam kalbu meski menyakitkan. Rasanya belum ada yang tersisa dalam ruang hati sekecil apapun menggantikan Bunga. Tapi entah kenapa medio bulan Desember tahun kedua persahabatan kami, naluriku ditingkahi rasa sayang dan sedikit tumbuh rasa cemburu manakala Magda tertawa lepas dengan temanku Salomo.
Malam minggu kedua bulan itu kami pulang dari gedung olahraga(GOR)Medan menghadiri ibadah natal oikumene. Aku dan Mawar satu beca sementara Magda bersama Salomo. Hatiku diliputi rasa cemburu melihat Magda dan Salomo begitu ceria dan tertawa terkekeh sepanjang perjalanan. Sesekali Magda menoleh kebelakang dan akupun berpura-pura ceria dengan Mawar. Aku dan Salomo kembali kerumah masing-masing setelah menghantarkan Mawar dan Magda kerumahnya.
Disudut ruangan kos ku duduk termenung dan gelisah. Sebentar-bentar aku keluar ruangan, kemudian masuk lagi. Ah, tanda-tanda apa ini pikirku sekaligus berusaha mengusir kegalauan hati. Kopi yang ku seduh beberapa jam lalu tak tersentuh. Jiwa berkelana liar terlunta-lunta bagai tak punya raga. Wajah Bunga dan Magda datang silih berganti.
Aku letih sendiri kemudian merebah dalam pembaringan sepi. Angin semilir malam itu berembus melalui celah jendela menghantar tidurku sekaligus mengukir mimpi. Magda meletakkan kepalanya dengan rambut terurai dipangkuanku sembari memegang sekuntum bunga mawar merah yang dipetik dari depan rumahnya.
Disudut kamar, kami duduk berduaan, mesra iya...sangat mesra. Kubelai rambutnya yang terurai lepas. Kucium keningnya dan menelusuri hidung hingga bibirnya, berbalas. Meski itu hanya dalam mimpi tapi aku menikmatinya. (Bersambung)
Anak manusia yang terdampar jauh dari tempat kelahirannya dari salah satu kabupaten Aceh. Pada usia 15 thn merantau ke kota Medan,menamatkan sekolah lanjutan atas dan perguruan tinggi, kemudian thn 1978 ke Jakarta hingga thn 1990 sebelum hengkang ke California, USA, January 1991.
"Magdalena"; Dosenku "Pacarku ": & "Telaga Senja"
http://tanzung.blogspot.com/
; http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/
No comments:
Post a Comment