Tuesday, February 3, 2009

Magdalena ( 56)


Heart - Alone

http://www.youtube.com/watch?v=jxfdDrKO8uM

I hear the ticking of the clock/I’m lying here the room’s pitch dark/I wonder where you are tonight/No answer on the telephone/And the night goes by so very slow/Oh I hope that it won’t end though/Alone....

=================
“ Aku menerimamu sebagaimana papa ada,” ujarnya sambil mencium pipiku. Tanganku ditaruh diatas pundaknya, “ pegang kuat pap, jalannya pelan saja.” uapnya menuntunku.
==================
DIDEPAN pintu kamar, aku melihat kopral Surahman dan ibu Mawar turut menjemputku. “ Kenapa kamu Zung,“ tanya ibu Mawar. Magda dan Mawar “berebutan” memberi penjelasan. Sepanjang perjalanan, di mobil, Mawar menanyakan kesehatan dan perkuliahanku. Tiba di gereja, Mawar dan Magda memapahku turun dari mobil hingga ke tempat duduk.

Selesai ibadah pernikahan, Magda dan Mawar masih menuntunku ke gedung resepsi di sisi bangunan gereja. Mami-papi Magda menjumpaiku dengan wajah heran ketika aku berjalan dipapah oleh putrinya, Magda. Aku jelaskan singkat, kenapa aku pakai tongkat. Di gedung itu aku melihat paribanku si centil, Sinta. Dia juga menyongsongku ingin memapah, sayang, tak ada ruang untuknya untuk menuntunku. Dia mencium pipiku dan berbisik, “ bang aman,?” tanyanya tersenyum. Oalahh, entah burung apa pula yang bersenandung berita “huru-hara “itu padanya.

Di dalam gedung resepsi, aku duduk diantara Magda, Mawar dan Sihol; kami menikmati acara khusus anak muda itu penuh gempita. Magda membantu ku berdiri ketika pasangan pengantin memasuki ruangan. Tepuk tangan membahana menyambut mereka, sementara Magda memandangi ku penuh makna.
“ Mam, kita tidak lama lagi seperti mereka.” ucapku pelan ditengah riuhnya tepuk tangan. Raut wajahnya semakin sumringah mendengar ucapanku serta menghadiakan ciuman di pipiku.

“ Magda, nggak malu dilihatin orang,?” tanyaku ketika berulang mencium pipiku.
“ Kenapa harus malu atau papa yang merasa malu,?” tanyanya.
“ Nggak, aku juga nggak kok, cuma malu karena tongkat ini,” dalihku.
“ Ya sudah. Magda, cium lagi, nggak usah pakai cubit,” kataku menahan cubitan dipinggangku.
Aku merasakan, Magda melayaniku”berlebihan” selama acara tapi aku menikmatinya. Sesekali Mawar kuajak berbicara ditimpali Magda.
***
Seorang remaja putri mendatangi magda dan berbisik. Magda diam bergeming. Tidak lama kemudian remaja pembisik itu menemui Magda, wajahnya sedikit berubah. Aku penasaran, menanyakan siapa remaja itu dan apa yang dia bisikkan. Magda belum menjawab, mami Magda datang menemuinya, juga membisikkan sesuatu, lalu pergi.

“Sebentar Zung, Magda mau turun kebawah ( lantai dasar, pen),” ujar ibunya.
Magda berkata lirih, “ Papi memanggilku, nggak tahu mengapa. Sebentar iya pap, aku segera kembali.” ujarnya.

Aku merasakan ada sesuatu yang tak beres, setelah belasan menit Magda belum muncul. Mawar menghalangiku ketika aku turun hanya dengan tongkat tanpa bantuannya. “Aku mau ke toilet,” ujarku. Mawar dan Sinta tak mengijinkan aku sendirian, mereka memegang kedua lenganku menuruni tangga.

Aku sengaja menghindar dari Mawar dan Sinta setelah dari toilet . Dengan tongkatku aku melangkah menuju ruangan lantai dasar mencari Magda yang baru saja” diculik”. Aku terhenyak melihat seorang pria — aku duga dialah Albert—duduk diapait papi Magda dan seorang pria lain usianya sepantarannya. Magda duduk diapit maminya dan seorang wanita usianya kurang lebih sama dengan maminya Magda. Akh..tak salah lagi, mereka sedang “mengeroyok” Magda.

Jantung berdetak kencang, sukar aku mengontrolnya. Aku buru-buru meninggalkan ruangan lewat pintu belakang dengan kaki terseok-seok. Mawar dan Sinta menyusulku, aku mendengar suara Mawar dan Sinta memanggilku. Mereka berjalan cepat mendahului langkahku, “ Abang mau kemana,?” tanya Mawar persis di depanku.

Dadaku terasa sesak, “Aku mau pulang,” jawabku. Mereka bersikeras menahanku, “ Tunggu bang, biar aku yang antar, “ ujar Mawar.
“ Tidak usah, aku bisa jalan sendiri,” ujarku, sambil memanggil beca yang kebetulan melintas dibelakang gedung pernikahan itu.

Mawar dan Sinta terus membujukku untuk tinggal sebentar, aku terus melangkah tak perdulikan bujukan mereka. Aku memaksakan kakiku masuk kedalam beca. Mawar dan Sinta akhirnya mengalah, membiarkanku pulang sendirian, meninggalkan “mama”ku dalam cengkraman orangtuanya.

Aku memalingkan wajah menoleh kebelakang, Mawar dan Sinta masih berdiri memandangiku dengan wajah prihatin. Ketika wajahku mengarah kedepan jalan, dari arah berlawanan, seorang anak muda mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Dia kehilangan kontrol dan menghantam beca yang kutumpangi, keras sekali.

Aku terpelanting keluar membentur aspal jalanan. Aku merintih kesakitan; dari mulutku keluar darah, kakiku tertimpa beca yang kutumpangi. Aku mendengar teriakan histeris Mawar dan Sinta dari kejauhan.

Sejumlah orang mengerumuni kami, mereka menolong pengemudi becak dan kedua orang yang menghajar beca. Diiringi ratap, Mawar dan Sinta mengangkat tubuhku kepinggir jalan, mulutku masih mengeluarkan darah. Aku sempat melihat wajah Magda sebelum kesadaranku hilang.

Aku baru sadar menjelang tengah malam, diruang gawat darurat; tulang - tulang terasa remuk. Menurut dokter, nasibku masih lebih baik dari kedua orang yang menabrakku. Orang yang diboncengnya—akhirnya meninggal tidak berapa lama. Kakiku yang masih dalam perawatan itu retak, siku tangan membengkak, “ dada, kepala dan rongga mulut bagus semua,” kata dokter. (BERSAMBUNG)

Los Angeles, February 2009

Tan Zung
http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment

Post a Comment