Wednesday, March 18, 2009

Dosenku "Pacarku" (101- S E L E S A I)

===============
Zung, izinkan aku menciummu untuk yang terakhir sebagai orang yang pernah kau kasihi dan juga sebagai saudara," ucapnya
===============
MAGDA menyandarkan wajahnya diatas dadaku setelah mencium seraya menyeka air mata dengan saputangannya.
" Magda, waktu jua yang akan memisahkan kita. Ternyata pemilik waktu itu belum merestui kita. Magda telah tulus melepaskanku? Jawablah aku Magda. Dalam beberapa menit lagi kita sudah akan berpisah," desakku.

Magda diam, membisu. Perlahan menggelengkan kepalanya, kembali dia membenamkan wajahnya dalam pelukanku. " Aku nggak tahu bang, apakah aku tulus atau tidak. Seperti aku tadi katakan, aku sukar membedakan antara saudara dan asmara. Abang telah memberikan keduanya. Tetapi percayalah, aku tidak memendam meski itu sangat menyakitkan. Aku berdoa tulus kepadamu, semoga abang mendapatkan perempuan yang lebih dariku," ucapnya.
" Kaulah yang terbaik bagiku, hanya sang pemilik waktu itu belum mengijinkan kita duduk bersanding dalam pelaminan," balasku seraya menghapus airmatanya.
Tak lama berselang setelah aku dan Magda melepaskan cetusan hati yang terakhir, aku melihat Susan datang tergopoh-gopoh menuju keruang tunggu. Aku tidak menyangka kalau Susan akan datang ke airport, karena sebelumnya Susan menyatakan dalam suratnya tidak akan ikut menghantarkanku. Magda pergi, berpura-pura membeli susuatu ke satu kios kecil di airport itu. Magda membiarkanku bicara berduaan dengan Susan.

" Zung, aku mencoba melupakanmu dalam beberapa hari ini, ternyata tak semudah itu. Aku juga tak dapat membohongi diriku. Aku ingin menghantarkanmu, barang kali ini adalah pertemuan kita yang terakhir, walupun aku mengharap tidak. Zung, jangan lupa telefon aku kalau sudah tiba di Jakarta. Aku menggangguk: "Iya aku janji akan menelefonmu. "

Magda kembali bergabung denganku dan Susan. Tak ada perasaan canggung diantara kami bertiga. Pembicaraan kami mengalir bagaikan air sungai bening dimana aku, Magda dan Susan berenang bersama beberapa hari sebelumnya.

Pengumuman dari maskapai penerbang mengakhiri pertemuanku dengan Magda dan Susan. Susan mengecup pipiku lembut, dia dapat menguasai emosinya meski matanya memerah. " Zung, selamat jalan sayang," bisiknya di telingaku sambil melepaskan pelukannya.

Magda....? Akh sama "galak"nya terhadapku akhir-akhir ini, demikian juga "galak"nya ketika akan berpisah. Magda tak dapat menguasai dirinya. Dia memelukku sangat erat dan menciumi pipiku kiri kanan. Magda menangis sesunggukan. " Zung segera pulang. Aku nggak ada teman bang, " ujarnya sambil membaringkan wajahnya diatas bahuku. Susan juga ikut terharu melihat tangisan dan ucapan lirih Magda di atas bahuku.

Aku berusaha menahan pahitnya perpisahan ini, tetapi kedua kelopak mataku tak kuasa membendung cairan bening berderai membasahi wajahku. Aku meraih tangan kedua mantan kekasihku. Magda dan Susan membiarkan aku mencium tangan mereka bergantian. Kini, giliran Magdalena menyeka air mataku. Suara lirih kudengar, " Zung, selamat jalan. Bang pergilah..pramugari telah menunggumu di tangga pesawat, "ujar Magda seraya menyeka air mataku lagi dengan saputangannya.

" Bawa lah ini bang," ucapnya sambil menyerahkan saputangan yang basah oleh airmata kedua insan yang pernah saling mengasihi. Wajah Susan tampak terharu memperhatikan "adegan" ku dan Magda. Dari ujung tangga pesawat, aku menoleh kepada mereka. Aku melihat Susan meletakkan tangan kanannya diatas bahu Magda. Tangan kedua mantan kekasihku itu melambai menghantarkanku mengarungi perjuangan serta kehidupan baru.

Vaya Con Dios my darling.... Vaya Con Dios my love... Goodbye, my hopeless dream ( S e l e s a i)

Los Angeles. March 2009

Tan Zung
http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Dosenku "Pacarku" (100)


http://www.youtube.com/watch?v=V9N5qhBE_oU

==============
Detik-detik mencekam menunggu jawabannya membuat hatiku semakin tersiksa. Perlahan aku membalikkan tubuhku sambil melangkah keluar dari ruang dapur.
=============
Segera aku menghentikan langkahku ketika mendengar Magda menghela nafasnya, panjang. " Iya lah bang, aku mau ikut mengantarkanmu ke airport," ujarnya pelan. Aku berlari menghampirinya serta mengangkat tubuhnya seperti anak kecil. Magda sesak dan berteriak sambil memukul-mukul dadaku.
"Lepaskan aku, lepaskan aku abang genit!"teriaknya. Kedua tanganya mencubit pipiku, kuat berbekas. Giliranku berteriak ketika Magda mencubit pipiku kali kedua. " Biarin, supaya abang tetap ingat Magda," ujarnya. Magda menyerahkan kunci motornya yang aku telah kembalikan. " Nih kuncinya, abang raja perajuk," ujarnya,
" Magda ratu cerewet," balasku sambil menyeka air mata yang tersisa diwajahnya.
***
Sebelum aku meninggalkan Magda, entah kenapa secara spontan hatiku tergerak ingin ziarah kekuburan papi Magda, bapaudaku ( pak'le, pen). Selama ini aku terus diliputi rasa bersalah. Dulu, aku tidak ikut menghantarkan jenazahnya ke pemakaman. Dalam perjalanan, Magda bertanya, kenapa aku tiba-tiba mengajaknya ziarah.

" Entah kenapa. Aku teringat papi ketika kita duduk makan bersama semasa hidupnya. Ketika itu papi menawarkan pekerjaan untukku setelah tammat sarjana muda," ujarku. Magda mempererat tangannya dalam boncengan serta meletakkan wajahnya di atas punggungku. Aku merasakan hangatnya tetesan airmatanya membasahi punggungku.

Aku dan Magda berlutut di didepan pusara setelah membersihkan serta meletakkan kembang diatasnya. Aku tak dapat menahan rasa sedih ketika mendengar isakan Magda. Dalam tangisnya Magda berujar lirih sambil memeluk pusara. Wajah diletakkan diatasnya, " Papi, abang datang lagi. Papi, besok abang pergi lagi meninggalkan aku dan papi."

Aku mengangkat wajahnya dari atas pusara serta memeluknya. Magda semakin terisak dalam pelukanku, suaranya lirih berucap: " Abang telah memaafkan papi,?" tanyanya dalam isak. Tubuhku terguncang menahan tangis mendengar pertanyaannya. " Magda! Tidak..!. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Papi tidak bersalah. Aku seharusnya minta maaf sebelum papi pergi, " ucapku menahan teriak dalam pelukannya.

Aku dan Magda tersentak ketika sepasang tangan menyentuh lengan kami. Aku dan Magda menoleh ke atas. Tanpa disadari, mami dan adiknya Jonathan sedang berdiri dibelakang kami. Magda segera berdiri dan memeluk maminya kemudian mami memelukku.
" Sudah puas rindu mu kepada bapauda.?" tanya mami Magda. Aku mengangguk. " Iya, rinduku telah puas. Aku kini merasa lega sebelum berangkat ke Jakarta," jawabku tersendat. Jonathan memelukku erat sekali. "Bang kemana saja? Selamat bang! Maaf aku nggak bisa hadir pada acara wisuda lalu,"ujarnya sambil menyalamku.

***
Magda mengantarkanku ke airport tanpa kehadiran Mawar. Berapa saat aku dan Magda duduk diruang tunggu. Sengaja kami berangkat lebih awal agar lebih lama mengobrol sebelum berpisah. Aku dan Magda berbicara penuh rasa persahabatan dan kekeluargaan. Namun, suasana berubah ketika Maya dan kakaknya Lisa datang menemuiku, kecut. Magda menyongsong mereka ke luar ruang tunggu. Aku menyusul bergabung dengan mereka. Maya menarik tanganku memisahkan diri dari kakaknya dan Magda.

Maya minta maaf karena tidak pernah menemuiku. " Aku kemarin datang kerumah abang, tetapi kata ibu kos abang jarang di rumah," ujarnya.
Aku tidak menanggapi ucapannya. "Sampaikan salamku kepada om mu itu," ujarku sambil menarik tangannya bergabung kembali dengan Magda dan kakaknya. Maya dan Lisa meninggalkan aku setelah mereka menyalamiku. Aku dan Magda masuk keruang tunggu melanjutkan obrolan yang terputus.

Kali ini, Magda tak dapat menahan rasa sedihnya. " Bang, jangan lupa telefon Magda kalau sudah tiba di Jakarta. Hati-hati jangan lagi kau sakiti hati perempuan. Cukuplah aku bang," ucapnya dengan suara bergetar.
"Magda, kenapa lagi kamu mengingatkan masa lalu kita?"
"Aku sudah berusaha bang, tetapi kadang kala kenangan itu datang sendiri. Sukar sekali melupakannya. Lima tahun waktu yang cukup lama kita saling mencinta. Kemudian abang datang lagi, meski ruang hatiku telah tertutup kepada siapapun. Aku akui, kadangkala aku sukar membedakan antara saudara dan asmara. Abang telah memberikan keduanya. Namun kali kedua, waktu jua yang memisahkan kita. Zung, izinkan aku menciummu untuk yang terakhir sebagai orang yang pernah kau kasihi dan juga sebagai saudara," ucapnya (Bersambung)

Los Angeles. March 2009
Tan Zung

http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Dosenku "Pacarku" (99)

" Without You"
No I cant forget this evening/Or your face as you were leaving/But I guess thats just the way/ The story goes/You always smile but in your eyes/Your sorrow shows/Yes it shows

No I cant forget tomorrow/When I think of all my sorrow/When I had you there/But then I let you go/And now its only fair/That I should let you know/What you should know
*) I cant live/ If living is without you/I cant live/I cant give anymore 2 X

No I cant forget this evening/Or your face as you were leaving/But I guess thats just the way/ The story goes/You always smile but in your eyes/Your sorrow shows/Yes it shows
*) I cant live/ If living is without you/I cant live/I cant give anymore 2 X


=============
Magda menatapku setelah selesai membaca surat itu. Magda menyeka air matanya, dan melemparkan surat itu keatas meja. Aku kaget. Aku tak menyangka kalau Magda masih menyisakan hati yang terluka atas hubungan kami.
============
"Magda, tadi aku telah ingatkan, Susan salah mengerti tentang hubungan kita. Atau kamu masih kecewa denganku? Bukan kah kita sudah sepakati untuk melupakannya? Kenapa Magda bersedih lagi. Aku pun sudah berulangkali mohon maaf. Magda masih belum tulus memaafkanku? Aku, sungguh telah melupakannya. Itu sebabnya aku hampir setiap hari datang kerumah ini, karena Magda telah kuanggap bagian dari keluargaku.

Magda diam. Dia mengambil amplop itu lagi dan menyerahkan ke tanganku. Aku pindah kedekatnya. " Magda, relakanlah aku pergi agar aku tidak punya beban. Aku tak ingin melihatmu bersedih seperti itu. Magda, aku menyadari kekeliruanku dulu. Aku sadar tak mungkin lagi mendulang cinta dari hati yang terluka. Aku telah merelakanmu pergi dengan siapapun lelaki yang mencintaimu. Magda menggelengkan kepalanya." Nggak bang, semuanya telah berakhir. Tidak ada lagi ruang hatiku yang tersisa," ucapnya dengan suara serak.

" Magda, besok aku mau berangkat, lepaskanlah aku dengan tulus. Tolong jangan menambah beban pikiranku lagi. Magda telah "menyelamatkan" aku dari Susan. Kini malah Magda menyiksa perasaan saat aku mau pergi." Magda diam, kedua matanya masih memerah mengeluarkan airmata membasahi wajahnya. Dia meninggalkanku sendirian di ruang tamu. Aku duduk diliputi rasa tanya, kenapa sikap Magda berubah lagi terhadapku. Pada hal akhir-akhir ini aku telah dianggapnya keluarga dekat sebagai bersaudara.

Kini aku seakan mendengar genta dari lorong gelap nan sepi. Telingaku tak mampu lagi mendengar gaung yang melolong panjang dan memilukan, mendera kalbu. Aku tak kuasa menahan getar cekraman sukma dari seseorang yang pernah aku kasihi. Aku merebahkan tubuh dalam kepenatan jiwa diatas sofa ruang tamu. Mataku sukar terpejam didera galau membalut jiwa. Malam itu, Magda tampaknya tidak dapat tidur. Magda menemuiku dalam pembaringan siksa, membujukku pindah ke ruangan yang telah dipersiapkannya. Aku menolak.

" Magda, biarkan aku disini, sendiri menikmati kebekuan dan kebuntuan hati," ujarku sambil menggigil menahan dingin menusuk persendian tulang-tulang ku.
" Abang nanti sakit. Besok mami memarahiku lagi bila abang masih tidur disini. Ayolah bang, aku sudah siapkan kamar untukmu," bujuknya. Aku bergeming. Magda mengambilkan selimut dan menutupi tubuhku setelah aku bersikeras tidak mau pindah. "Selamat malam bang," ujarnya sambil berlutut, meraih tanganku dan menciumnya.
***
Pagi hari usai serapan, aku dan Magda duduk berduaan di meja makan. Paginya, mami Magda telah keluar rumah.
" Zung, besok aku nggak bisa mengantar abang ke airport," ujarnya dengan wajah kuyu.
" Magda, apa lagi yang membuat hatimu berubah secepat itu ? Apa perlu abang membatalkan keberangkatanku? Apa lagi yang harus aku lakukan agar hatimu puas? Terakhir ini aku mendengar dan mengikuti nasihatmu, bebanku hilang. Sekarang malah Magda menambah bebanku."

"Bang, nggak ada yang berubah. Hanya aku belum siap berpisah denganmu. Aku menyesali kenapa abang datang lagi dan kali kedua meninggalkanku. Tak ada lagi temanku berbagi rasa, walaupun kita selalu bertengkar. Aku sangat menyayangimu sebagai saudaraku. Zung, aku tidak mengingat lagi masa lalu kita. Aku nggak sakit hati, hanya aku tidak tega memberangkatkanmu. Jangan sakit hati bang, Magda tak mampu melihatmu meninggalkanku sendirian di airport dan aku akan menanggung kesedihan sepeninggalmu."

"Baiklah Magda, aku menghargai alasanmu. Tetapi ingatlah, masa-masa yang indah terakhir ini, sebagai keluarga dekat, kau akhiri dengan kesan menyakitkan. Aku tak yakin, Magda telah memafkanku dengan tulus. Magda hanya berpura-pura, meski aku dengan tulus menemanimu sebagai keluarga dekat. Ugghh...aku permisi, selamat tinggal ito ku Magda yang baik." ujarku sambil beranjak dari meja makan dan menyerahkan kunci motor yang tadinya aku pinjam untuk sesuatu urusan.

Magda tidak menghalangiku pergi, tetapi dia menangis sambil berlari ke ruangan dapur. Magda berdiri di depan jendela dapur sambil menyeka air matanya. Aku mengikutinya dari belakang dengan perasaan gelisah. Sedikipun aku tak menduga kalau sikapnya akan berujung seperti itu. Aku mencoba mengingat-ingat barangkali ada sesuatu ucapanku yang menyinggung perasaannya. Tapi aku sangat yakin, terakhir ini tidak sekalipun aku menyakiti hatinya. Juga, tidak pernah mempengaruhinya agar hubungan kami kembali, meski hatiku pun masih mengharap. Aku berdiri kaku menatapnya masih dengan wajah sedih. Bibirnya bergetar menahan tangis sambil melangkah ke kursi di sudut ruangan dapur. Kedua tangannya menopang wajahnya, matanya menatap kearahku, hampa.

" Magda, nggak apa-apa kalau tidak mau mengantarkan aku ke airport. Tetapi, katakan sejujurnya sebelum aku meninggalkan rumah ini, apa yang membuat sikap mu seperti itu. Aku janji, tidak akan tersinggung dan marah. Justru sikapmu seperti ini, tanpa pejelasan, membuat aku tersinggung dan sakit hati untuk seumur hidup, sungguh, " ucapku serius.

Aku menunggu jawaban terakhir sebagai simpul persahabatanku; sebagai keluarga, sekaligus sebagai perempuan yang pernah aku cintai dengan tulus, walau pada akhirnya terhempas diterjang badai. Aku juga menatapnya hampa, kecewa, iya sangat kecewa. Akankah semuanya berakhir tanpa aku mengerti apa dan mengapa? Detik-detik mencekam menunggu jawabannya membuat hatiku semakin tersiksa. Perlahan aku membalikkan tubuhku sambil melangkah keluar dari ruang dapur. (Bersambung)

Los Angeles. March 2009

Tan Zung

http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Dosenku "Pacarku" (98)


"I Hate You Then I Love You"
I'd like to run away from you/ But if I were to leave you I would die/I'd like to break the chains you put Around me/And yet I'll never try

No matter what you do you drive me crazy/I'd rather be alone But then I know my life would be so empty/As soon as you were gone

Impossible to live with you/But I could never live without you For whatever you do / for whatever you do/I never, never, never/Want to be in love with anyone but you

You make me sad/You make me strong/You make me mad/You make me long
for you / you make me long for you You make me live/You make me die/You make me laugh/You make me cry for you / you make me cry for you

*) I hate you/Then I love you/Then I love you/Then I hate you/Then I love, I love you more
For whatever you do/I never, never, never/ Want to be in love with anyone but you

You treat me wrong/You treat me right/You let me be/ You make me fight with you / I could never live with out you You make me high/You bring me down/You set me free/You hold me bound to you
*)
I never, never, never/I never, never, never/I never, never, never/ Want to be in love with anyone but you But you
===============
Ketika akan pulang, Susan memaksa Magda duduk didepan mendampingiku. " Magda, kau duduk didepan sebelum tuan paduka murka." gurau Susan.
===============
Susan mengajak kami makan malam di rumahnya. Aku tak dapat menolak setelah Magda menyetujui ajakan Susan. Sebenarnya aku tak rela lagi mampir dirumah itu, terlalu banyak kenangan yang terajut disana, mulai dari sofa, ruangan bar kecil dan tempat tidur; kesemuanya menjadi saksi bisu selama -kurang lebih sepuluh minggu.

Seperti biasanya, Susan tak pernah membiarkan pembantunya melayani aku dan Susan ketika makan bersama. Aku berbisik kepada Magda agar ikut ke dapur mempersiapkan makanan. Aku menyusul setelah Magda kedapur. Kami bertiga di dapur bersama-sama mempersiapkan meski Susan melarangnya. Di meja makan, Susan menarik tangan Magda duduk disampingnya, menghadapku.

" Magda, kita duduk disni menghadap tuan paduk yang mulia," ujar Susan bergurau. Magda ketawa mendengar guyonan Susan. Suasana makan malam penuh kehangatan seperti tiga bersaudara dekat. Malam semakin larut, Aku dan Magda meniggalkan Susan dengan hati berat, karena telah terjalin kumunikasi yang akrab dan tulus diantara kami bertiga. Susan mencium pipi Maga dan memelukku erat dihadapan Magda. " Bang, hati- hati dijalan," pesannya. Selama dalam perjalanan, wajah Magda kurang ceria.

" Ada apa, kenapa wajahmu muram seperti itu,? tanyaku. Suara Magda tersendat: " Aku tak sangka Susan begitu hangat dan tulus. Beda ketika dia sedang memberi kuliah. Lain waktu, aku akan ajak Mawar main kerumahnya.
" Sekarang baru Magda rasakan kehangatan Susan. Hal yang sama aku rasakah sehingga aku larut dan melabrak tatanan kewajaran," ujarku, disambut anggukan Magda.
***
Tiga hari berikutnya, Susan datang kerumahku, kebetulan aku sedang dirumah Magda. Magda selalu menelefonku jika pada siang hari belum juga "melapor" kerumahnya. Suatu waktu dia pernah kesal karena aku tak datang kerumahnya. "Abang mentiko , sudah tahu mau pergi masih melalak kemana-mana," ujarnya kesal.

" Magda juga ikut-ikutan memasungku."
" Bangngng....! Aku tidak mau memasung. Abang sebentar lagi sudah mau pergi.!" teriaknya.
" Duh...masih gadis begini sudah darah tinggian," ujarku ngenyek.
" Bangng... aku bukan marah. Abang nggak mengerti perasaanku," balasnya lembut sambil meraih kedua tanganku dan menempelkan di sisi wajahnya.
" Abang salah mengerti" imbuhnya. Sikapnya kala itu, membuatku setengah pesong, benci tapi rindu.?

Ketika aku tiba di rumah, ibu kostku memberikan sebuah titipan dari Susan berisi surat singkat dan tiket pesawat Medan - Jakarta-Medan dengan status "open date."
Menurut ibu kos Susan menuliskannya diruang tamu. " Zung, maafkan aku tak bisa mengantarkanmu ke airport. Aku ragu, tak kuasa menahan diriku untuk melepaskanmu pergi. Aku juga tak mau melukai hati adikku Magda yang aku sangat sayangi. Selamat jalan bang. Kalau tidak keberatan setelah abang di Jakarta, sesekali telefonlah aku kekantor. Aku pasti sangat merindukanmu. Abang sudah tahu jadualku di kampus, bukan? Jangan biarkan aku tersiksa dengan rinduku. Aku merelakanmu pergi dengan adikku Magda. Aaku hanya ingin mendengar suaramu." Akhir tulisannya; "Peluk cium ku, Susan Raharjo Hendra."

Dua malam terakhir sebelum berangkat, Magda dan mami mengajakku menginap dirumahnya. Aku setuju kebetulan kedua orang tuaku tak jadi datang karena kesibukan. Setelah makan malam, aku dan Magda diruangan tamu hingga larut malam. Magda kesal ketika aku mau pergi tidur. " Zung, besok lusa kan mau berangkat. Kok tega amat abang mau tidur baru pukul dua belas," katanya kesal.

Aku mengalah menuruti permintaannya, begadang. Sebelumnya tak ada niat memberi surat Susan kepada Magda. Tetapi karena Magda ingin memperpanjang durasi pembicaran, aku menyerahkan surat Susan yang ditujukan padaku.

" Magda mau baca surat Susan yang terakhir? tanyaku. Magda semangat, segera berdiri menarik tanganku " Ayo bang ambilkan, aku mau baca."
Aku memberikan amplop titipan Susan berisi tiket dan suratnya. Sebelum Magda membaca isi suratnya, terlebih dahulu aku mengingatkan Magda: " Susan salah mengerti tentang hubungan kita. Dia menduga hubungan kita kembali seperti sediakala. Magda, aku tak pernah sekalipun berbicara tentang kamu. Aku harap Magda tidak salah mengerti."

Magda menatapku setelah selesai membaca surat itu. Magda menyeka air matanya, dan melemparkan surat itu keatas meja. Aku kaget. Aku tak menyangka kalau Magda masih menyisakan hati yang terluka atas hubungan kami.( Bersambung)

Los Angeles. March 2009
Tan Zung

http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Dosenku "Pacarku" (97)

http://www.youtube.com/watch?v=iPnDTrcEKwM

===============
" Nah begitu lah. Aku tak salah memilih sahabat meski ratu cerewet, " ujarku seraya mengelus pipinya, lembut. Magda membalasnya dengan jeweran dikupingku, " Terimakasih raja pegajul!"
==============

ESOK harinya, aku dan Magda berangkat dengan mengenderai mobil ke rumah Susan. Susan menyambut kami dengan ramah.
" Kita berangkat dengan mobilku saja, " ujar Susan sambil menyerahkan kunci mobilnya ketanganku. Sedikit agak kaku antara Magda dan Susan sebelum kami berangkat. Susan memilih duduk dibelakang, sementara Magda menginginkan Susan duduk mendampingi ku.

" Iya, sudahlah dari pada buang-buagg waktu, kalian berdua duduk di belakang, aku jadi sopir," ucapku sambil menghidupkan mesin mobil. Magda dan Susan tertawa mendengar ocehanku. Susan buru-buru masuk dan duduk disampingku. "Abang kita kesal nih," ujar Susan sambil tertawa.

Suasana ceria menyelimuti hati kami bertiga ketika menyelusuri jalan menuju rumah mungil ditengah kebunnya. Sesekali aku memegang tangan Susan dan Magda bersamaan. Keduanya menyambut tanganku dan menggemgamnya erat. Demikian juga ketika kami berenang bersama di sungai. Kami bertiga tertawa lepas ketika tubuh Susan dan Magdaku benamkan kedalam sungai. Tak ada lagi batas antara mahasiswa dengan dosen.

Susan mengaku kelelahan. Dia menepi kebibir sungai, sementara Magda masih asyik menikmati sejuknya air sungai. Magda menganggukkan kepalanya, ketika kuberi "sign", aku mau mengikuti Susan. Ah..Magda sangat luar biasa pengorbanan serta ketulusan hatinya, kataku dalam hati.

Aku dan Susan duduk di tepi sungai. Sesekali Susan mempermainkan air dan menyiram wajahku sambil tertawa. Tak pernah sekalipun Magda menoleh kearah kami hingga aku dan Susan meninggalkan sungai. Di rumah mungil itu, Susan mengajakku mandi bersama, tetapi aku menolak dengan dalih, " Nanti nggak enak dengan Magda."
" Abang memang benar sudah balik lagi kepada Magda?" tanyanya sambil membuka pintu kamar mandi.

Aku tak memberi jawaban pasti. " Menurut Susan bagaimana,?" tanyaku balik. Susan diam dan menutupkan pintu kamar mandinya. Aku mengetuk pintu kamar mandi dan bertanya: " Susan, kenapa diam? Kamu marah?. Susan membuka pintu dan menarikku kedalam. Susan mencumiku dengan gairah. Susan tak peduli meski aku sudah berulang kali berbisik ketelinganya.
" Susan, kamu nggak malu jikananti kita dilihat Magda.? Diakhir ciumannya mengucapkan : " Zung, aku rela melepaskan mu demi kebahagian abang dengan Magda."

Aku memeluknya dan berucap lirih di telinganya: " Terimakasih Susan. Selama ini telah banyak membantuku. Maafkan aku bila telah mengingkari janjiku. Terimakasih Susan merelakanku pergi. Aku tak akan melupakan, bahwa Susan pernah berlabuh dalam kalbuku meski dalam bentangan waktu yang sangat singkat."

Aku meninggalkannya dikamar mandi dengan berat hati ketika dia mulai menitikkan airmata. Sementara Susan masih menangis, Magda kembali dari sungai. Aku berbisik kepadanya " Susan di dalam, dia sedang menangis."
Magda faham lantas dia kembali lagi kesungai meninggalkan aku dan Susan dirumah. Aku menemui Susan kekamar mandi karena masih terus menangis. Dia mengabaikan bujukanku supaya diam.

Aku menuntunnya kembali ke ruang tamu. Dia meninggalkanku di ruang tamu dan masuk kedalam kamar. Susan membaringkan tubuhnya, masih dalam tangis. Aku menemuinya setelah Susan berhenti dari tangisnya dan membujuk: "Susan, kita pulang hari sudah mulai gelap."

Tangis Susan kembali memecahkan kesunyian, " Zung, kemarilah, peluklah aku untuk kali terakhir," ujarnya dalam pembaringan.
" Sepertinya Magda sudah datang dari sungai. Dia ada diruang tamu, " kataku mengingatkannya.
" Aku tak perduli. Aku juga telah punya suami, aku rela memberimu yang terbaik."

Hatiku bergetar mendengar ucapannya. Aku memeluknya dengan rasa kasih sayang, tanpa diiring nafsu birahi. Kembali aku mengucapkankan kalimatku sebelumnya; "Aku tak akan melupakan, bahwa Susan pernah berlabuh dalam kalbuku meski dalam bentangan waktu yang singkat. Susan, mandilah agar kita pulang," bujuk ku. Susan bangkit dari tempat tidur, dia tidak menolak ketika aku menggandeng tangannya ke kamar mandi.

Magda menggigil sambil berlari kecil kerumah, sementara Susan telah selesai berpakain siap-siap untuk pulang. Susan menyambut Magda, seakan tidak ada sesuatu yang terjadi. Dia menyuguhkan teh panas yang telah disediakan ibu penjaga rumah kepada Magda. Aku berpura-pura protes, sekedar menambah kehangatan suasana: " Lho, aku dari tadi disini tak setes airpun Susan suguhkan kepadaku. Susan diskriminatif, hanya melayani sesama perempuan," ujarku.

" Buru-buru Susan menuangkan air teh ke gelas dan mengantarkannya, " ini tuan paduka," ujarnya bergurau. Magda tertawa mendengar percakapanku dengan Susan. Ketika akan pulang, Susan memaksa Magda duduk didepan mendampingiku. " Magda, kau duduk didepan sebelum tuan paduka murka." gurau Susan. ( Bersambung)

Los Angeles. March 2009


Tan Zung
http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Dosenku "Pacarku" (96)


"Almost Lover"
Your fingertips across my skin/The palm trees swaying in the wind Images/ You sang me spanish lullabies/The sweetest sadness in your eyes/Clever trick/I never want to see you unhappy/I thought you'd want the same for me

*)Goodbye, my almost lover/Goodbye, my hopeless dream/I'm trying not to think about you/Can't you just let me be?/So long, my luckless romance/My back is turned on you/I should've known you'd bring me heartache/Almost lovers always do

We walked along a crowded street/You took my hand and danced with me/Images/And when you left you kissed my lips/You told me you'd never ever forget these images, no I never want to see you unhappy/I thought you'd want the same for me
*)
I cannot go to the ocean/I cannot drive the streets at night/I cannot wake up in the morning
Without you on my mind/So you're gone and I'm haunted And I bet you are just fine/Did I make it that easy To walk right in and out of my life?
*)
==============
" Kalau sampai sebulan nggak dapat kerja, aku segera kembali," imbuhku.
Susan terusberusaha mempengaruhi ku, agar membatalkan niat ku ke Jakarta
===============
" Zung , bagaimana dengan pekerjaan yang aku tawarkan itu. Bolehlah abang pergi tapi kembali lagi setelah sebulan," bujuknya. Tidak elok menolak langsung tawarannya, aku berucap: " Aku akan pikirkan ulang usulanmu setelah aku di Jakarta." Dalam pembicaraan hampir satu jam itu, Susan sesekali mengulang kenangan kisah kasih kami. Susan mengajakku ke rumah mungil dan kebun peninggalan ayahnya. " Zung, nggak rindu dengan sungai kala aku dan abang mereguk kasih dalam kebeningan sungai.? "

Iya, aku amat merindukannya, airnya begitu jernih dan sejuk. Aku terkesan dengan batu-batu besar dan indah ditengah sungai. Suara gemercik sungai menggelitik syarafku untuk menuliskan ke kagumanku tentang ke Maha Besaran Sang Pencipta. Beberapa tulisan pendek berhasilku torehkan didalam catatan harianku berisi tentang kemolekan dan kecentilan sungai mengalir menyusur hingga ke samudera luas.

Diantara catatan harian pernah ku torehkan antara lain;
" Senandungmu berdesah mengiring gemulaimu menyusuri alur berliku bebatuan. Geliatmu bagaikan gadis jelita meliukkan tubuh, menggelora. Senyuman dan kebeningan penampakanmu mengundang nafsu berahiku untuk menyetubuhimu. Engkau pasrah ketika aku mencumbuimu hingga aku terkulai dalam pelukanmu.

Engkau memberiku kehangatan dalam jiwa mana kala aku terpasung dalam kegalauan sukma. Aku mencicipi kemolekanmu penuh gairah. Engkau memberiku sejuta rasa. Mengalir laksana madu membasahi kerongkongan ku."
Diakhir tulisan itu ku tuliskan." Aku, penikmat cipta surgawi."

Entahlah mungkin Susan sengaja mengungkit kenanganku dan dia. Oh iya...kala itu, Susan bergayut manja di pangkuanku pada akar pohon yang membentang kokoh diatas permukaan sungai. Aku sengaja melepaskan pelukanku sehingga dia terjungkal ke dalam sungai, gelegapan.

Tangannya menggapaiku. Aku menghampirinya setelah aku puas mempermainkannya. Dia memukul-mukul dadaku seraya berujar, " abang nakal." Ciumanku menghentikan tangannya memukul dadaku. "Bang, aku kedinginan." ujarnya mengharap aku memangku ketepian sungai. Susan menghentakkanku dari kenangan sekilas.
***
" Zung, besok suamiku Hendra akan berangkat ke kantor pusat memberikan laporan perjalananannya selama di London. Abang mau temani aku ke kebun,?" tanyanya. Aku mengganguk tanda setuju. Susan tidak merasa keberatan bila aku mengajak Magda dan Mawar ikut ke kebun dan ke rumah mungil peninggalanan ayahnya.

Setelah Susan pulang, aku segera berangkat ke rumah Magda memberi laporan terakhir tentang Susan. Aku dan Magda ada semacam perjanjian tak tertulis, semua kegiatanku di Medan sebelum aku ke Jakarta harus melaporkannya, termasuk mengenai Maya dan Susan. Kesepakatan tak sengaja ini, muncul ketika kami di danau Toba menikmati liburan setelah wisuda..
***
Magda baru saja siap mandi datang menyongsongku ke teras rumah.
" Ada berita baru bang.?"
Magda tahu, setiap kedatanganku diluar jam bertamu, akan melaporkan sesuatu yang baru.
" Magda, ini perintah.! Tak ada alasan mu untuk menolak, kecuali Magda bersedia tak berbicara denganku untuk seumur hidup." ujar ku.
" Ah..abang selalu main paksa," ujarnya sambil mengeringkan rambutnya - yang baru saja dikeramas- dengan handuk .
" Besok siang kita pergi ke sungai tempat kita retreat" dulu ketika mahasiswa. Aku ingin berenang disana bersamamu sebelum aku berangkat." ujarku bergurau.

" Abang baru minum iya? Berapa botol abang minum hah...?" tanyanya serius sambil mengibaskan handuknya ke wajahku. Aku tertawa melihat tingkahnya; tempramennya langsung on, wajahnya berubah galak. Aku merebut handuk dari tangannya dan membelitkan ke lehernya sambil tertawa. Magda sadar dia aku "kerjain". Dia merajuk dan meniggalkanku sendiri di ruang tamu.

Mendengar kami" huru - hara" maminya keluar dari kamar, sementara Magda sudah menghilang. Maminya masuk lagi setelah aku jelaskan, kami tidak ribut.
" Apa lagi yang mau diributin hah..." tanya Magda berlagak marah, setelah maminya masuk ke dalam kamar
" Magda, tenangkan dulu dirimu. Hidupmu tiada hari tanpa marah, cerewet."
" Abang yang selalu bikin gara-gara. Ayo lah nggak usah berteletele, ada masalah apa lagi?"

" Nggak ada masalah. Ibu Susan mengajakku melihat kebunnya, sekaligus mengajakku mandi bersama lagi. Ibu itu setuju kalau Magda dan Mawar ikut bersamaku. Kamu nggak boleh menolak dengan alasan apapun kecuali oleh kematian. Magda harus ikut. Selamatkan diriku," pintaku sambil ketawa.

Magda diam beberapa saat, kemudian bertanya, " Abang serius? Susan nggak keberatan bila aku dan Mawar ikut?"
" Iya, aku serius. Telefonlah Mawar sekarang," ujarku.
" Mawar nggak ada waktunya," ujar Magda setelah menghubungi Mawar melalui telefon.

" Kita berdualah, " ujar ku
" Apa Susan nggak cemburu.?"
"Itu yang aku harap. Semoga keikutsertaanmu, secara perlahan dapat menghapuskan cinta kami yang terajut. "
Magda menatapku serius dan berucap: " Apapun menurut abang yang terbaik, aku akan membantumu."
" Nah begitu lah. Aku tak salah memilih sahabat meski ratu cerewet, " ujarku seraya mengelus pipinya, lembut. Magda membalasnya dengan jeweran dikupingku, " Terimakasih raja pegajul!" ( Bersambung)

Los Angeles. March 2009

Tan Zung
http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/

Dosenku "Pacarku" (95)


"Right here waiting for you"
Oceans apart day after day/And I slowly go insane/I hear your voice on the line/But it doesnt stop the pain If I see you next to never/How can we say forever

*) Wherever you go/Whatever you do/I will be right here waiting for you/ Whatever it takes/Or how my heart breaks/I will be right here waiting for you

I took for granted, all the times/That I thought would last somehow/ I hear the laughter, I taste the tears/ But I cant get near you now/Oh, cant you see it baby/Youve got me going crazy
back to *)

I wonder how we can survive/This romance/But in the end if Im with you/Ill take the chance

Oh, cant you see it baby/Youve got me going crazy
Repeat *)


UPACARA wisuda berlangsung meriah. Kedua orang tuaku hadir bersama dengan orangtua calon wisudawan lainnya. Susan menemuiku sebelum ujian berlangsung, dia berbisik mananyakan kedua orangtuaku. Aku menunjuk kearah keluarga berkumpul. Susan mengajakku menemui ayah dan ibuku. Aku perkenalkan Susan kepada semua keluarga yang hadir pada saat itu. Ayah dan ibu tak menunjukkan perubahan wajah ketika aku perkenalkan Susan Dengan santun ayah dan ibuku menyambut tangan Susan.

Selesai di wisuda, aku melihat Maya ikut duduk dalam jajaran keluargaku dan keluarga Magda. Aku serba salah, ingin menemuinya, tetapi aku nggak tahu apa yang akan kulakukan. Selama tiga minggu tak pernah ketemu tak ada komunikasi. Aku, Magda dan Mawar bicara di ujung ruangan, sementara keluarga sudah menunggu kami.

" Bang, Maya ada disana. Pergi temuin dia bang," ujarnya sambil menunjuk kearah kumpulan keluargaku dan keluarga Magda. Aku diam tak menjawab, sementara hatiku gelisah bercampur kesal.

Aku tak melihat om John "sibagur tano" itu dalam jajaran para dosen. Aku ingin mengipas ijazahku kewajahnya dan berujar: "sekarang kita sudah sama, punya gelar akademi yang sama. " Sementara dendam hatiku membara, Magda menyentakkanku lagi. " Bang , Maya ada disana. Abang temuin dia. Itu tatakrama berteman," ujarnya menirukan kalimatku di diskotik.

" Ayo, temani aku," ujarku
Magda menghajarku habis. " Bang, pada perempuan bersuami kamu berani, kok sama Maya abang takut.?"
" Ups... Magda ingat janji kita, tidak akan mengungkit masa lalu."
" Og..iya aku lupa. Ayo kita jalan sama," ujarnya sambil menggandeng lenganku. Dia juga mengajak Mawar jalan bersama. Sejumlah rekan wisudawan merasa "surprise" ketika mereka melihatku dan Magda jalan bersama dan akrab. Diantara mereka menyalamiku dan Magda. " Selamat rukun kembali, " ujar mereka. Aku dan Magda juga Mawar hanya tersenyum menerima ucapan selamat itu.

Sebelum sampai ke tempat keluarga dan Maya berkumpul, Magda mengingatkanku. " Bang, berlaku santun lah. Jangan lagi ulangi kesalahan yang sama. Yang nggak setuju berteman dengan Maya adalah om dia, bukan Maya sendiri. Maya telah membuktikan kasih sayangnya kepada abang, dia datang menghadiri wisudamu."

Semua keluarga menyalamiku dan Magda. Magda memeluk Maya dan mengucapkan terimakasih atas kehadiran Maya. Paribanku si centil, Sinta, juga ada diantara mereka. Magda memeluk ibuku, lama.
" Mama tua sehat?" tanyanya. Dia juga menyalam ayahku. Maya memperhatikan Magda dengan serius ketika dia mememeluk dan menyalam ayahku, entah apa dalam benaknya.

Magda menarik tangan Maya menjauh dari kumpulan keluarga, mereka berbicara, tak tahu apa yang mereka bicarakan, sementara ujung jari di sisi pahanya memberi sign memanggilku. Magda meninggalkan aku dan Maya setelah beberapa saat ngobrol bersama.

Maya minta maaf, tak bisa bertemu denganku selama tingga minggu ini. Maya tak mau menyebut alasan kenapa dia tak pernah mau bertemu denganku.
" Kamu punya pacar baru?"tanyaku
" Nggak.!" jawabnya singkat.
" Kapan kita bisa ketemu? Aku mau berangkat ke Jakarta akhir bulan ini."
" Nanti aku telephon abang," jawab Maya. Aku dan Maya kembali kekumpulan keluarga. Magda menggodaku setelah Maya berlalu, " sudah plong bang?"
" Nggak jelas," jawab ku.

Sebelum bubaran, Magda dan maminya "memaksa" ayah dan ibu makan malam dirumahnya, pada hal tante, adik kandung ibu, telah menyiapkan malam malam. Akhirnya mami Magda mengalah, kami makan siang dirumah tante.
***
Seminggu sebelum berangkat ke Jakarta, Susan mampir ke rumah ketika akan pulang kerumahnya. Sementara aku baru tiba dari danau Toba, Parapat, bersama Magda dan Mawar. Susan mengajakku makan malam di rumahnya bersama Hendra suaminya. Meskipun tak ada lagi yang aku khawatirkan tetapi aku menolaknya; selain tempatnya agak jauh juga tak ingin lagi menambah lembaran kisah dengannya, enough is enough.

Ibu kos meninggalkan aku dan Susan diruang tamu setelah melihat pembicaraan kami semakin serius. Susan menanyakan lagi tanggal keberangatanku ke Jakarta dan berapa lama aku disana.

" Aku berangkat akhir bulan ini," ujarku. " Kalau sampai sebulan nggak dapat kerja, aku segera kembali," imbuhku. Susan terus berusaha mempengaruhi, agar membatalkan niatku ke Jakarta. ( Bersambung)

Los Angeles. March 2009

Tan Zung
http://telagasenja-tanzung.blogspot.com/